SMS TERAKHIR

Standar

“Hmm…Siapa lagi ya yang belum dapet kiriman SMS?”, batinku bertanya-tanya sambil mendaftar nama-nama kawan yang kukenal ataupun ia tak mengenalku karena yang terpenting adalah misi untuk menghabiskan 100 SMS gratis ini berhasil.

Sejak dua hari yang lalu, aku menjadi orang yang terkenal sebagai motivator via SMS karena setiap hari aku selalu membagikan pesan berisi motivasi dan renungan kepada semua kawan di sekitarku. Maklum ada program terbaru yang diluncurkan oleh salah satu cell phone provider terbesar di Indonesia, yaitu SMS 1 Gratis 100. Wow! Siapapun pasti ketagihan untuk mengirim SMS sebanyak-banyaknya.

“Tut..Tut..SMS masuk!”

Kubuka perlahan  SMS yang baru saja nangkring di Hpku dan dengan senyum kecut kubaca isi pesan tersebut.

“Makan permen rasa kopi,

Aku keren udah pasti,

Ada udang di balik batu,

Aku lucu ow udah tentu,

Ada bebek bawa galah,

Lu jelek ya iyalah,

Ke toko beli kado,

Gue sih masa bodo”

“Huh, SMS ga penting dan ga mendidik…!”

Aku memang paling anti untuk membaca SMS narsis dan tidak jelas makna dari pesannya. Bagiku lebih baik aku menyebarkan pesan kebaikan yang penuh dengan motivasi dengan begitu maka aku telah mengajak orang lain untuk berpikir positif.

“Agu…Temenin aku ke pasar yuk!” Pinta Laras sahabatku yang dari tadi menarik-narik lengan baju seragamku.

“Duh Laras cantik, temenmu yang cerdas ini sedang merangkai kata-kata bijak yang nantinya akan dikirimkan ke orang-orang sekitar. Aku kan lagi berbuat baik. Jangan ganggu ah!”

“Tapi kan kamu tau kalau aku paling takut ke pasar sendirian.” Rengek Laras makin menjadi-jadi.

“Laras! Udah dong…Aku jadi gak konsentrasi nih”, hardikku padanya.

Dengan bibir manyun dan mata membelo, Laras pun berlalu dari hadapanku.

“Agu Kejam!”

“Whatever lah…!!!”, jawabku singkat.

***

Sejak pulang sekolah tadi, aku sibuk dengan rentetan kata-kata bijak yang telah kusiapkan sehingga begitu aku sampai di rumah maka akan kusebard dengan cepat.

“Sisa SMS gratis yaitu 10. Wow, berarti tinggal 10 orang lagi yang beruntung untuk mendapatkan pesan motivasi nan menyentuh dari Agustin Prahara Dewi”, Senyumku mengembang bahwa misiku berhasil untuk menghabiskan 100 SMS gratis dalam waktu yang singkat.

“10 Nama Penerima SMS Motivasi terakhir adalah….”, cepat-cepat kuambil pulpen dan kertas agar kudapat mendaftar nama-nama orang penting yang ada di sekitarku.

  1. Nidha, pertimbangannya adalah Anaknya gaul abis dan temen yang seru buat gosip.
  2. Imam, tak perlu ditimbang lagi soalnya doi keren plus ganteng.
  3. Nur, anak yang satu ini merupakan anak yang paling sholehah di kelas jadi biar tambah pahala karena memberikan ia kata-kata bijak.
  4. Ratno, anak yang satu ini juga tak boleh dilupakan karena ia merupakan investor abadi bagi kami anak IPA 1 (Makan gratis!).
  5. Imah, walau gak terlalu deket tapi doi ini sangat aktif di situs jejaring sosial.
  6. Ramly, seorang penyiar radio BBT (Bang Bang Tut) FM alasannya biar sering disenggol.
  7. Achin, si alim nan cerdas (Ketua Osis) biar bisa PDKT gitu deh.
  8. Acil Lia, penjual nasi goreng depan gang, orang terpenting juga neh biar bisa dapet gratis mulu.
  9. Iwan, si jenius walau ga ganteng-ganteng amat tapi harus juga dapet SMS, biar bisa dapet contekan kalau ada ulangan MTK.

10.  Hm………………………

Tiba-tiba aku kehabisan nama-nama kawan dekatku.

“Siapa lagi ya?” Pikirku dan tanpa disadari aku pun tertidur sambil memegangi HP tercinta.

***

“Agu….bangun!”

Tiba-tiba Mbak Nia, kakakku tercinta membangunkanku dengan suara yang keras dan membuatku terbangun.

“Ada apa sih mbak?”, tanyaku keheranan melihat Mbak Nia yang terlihat sedih.

“Laras….Laras meninggal!”

“Apaaa??? Laras meninggal?” Mataku terbelalak mendengar ucapan Mbak Nia.

Serasa tak percaya dan kuharap ini hanyalah mimpi buruk saja, namun kucubit tanganku dan sakit sekali. Akupun berlari kencang menuju rumah Laras, sahabatku sedari kecil. Masih kuingat ketika ia menolongku ketika aku terjatuh dari motor dan menangis ketika melihatku terluka. Hari ini bagai petir di siang bolong, sebuah kabar buruk menghinggapi ruang hatiku. Sambil berlari aku menangis dan sampailah aku di depan rumah Laras yang jaraknya tak jauh dari rumahku. Aku pun berhenti di pintu rumahnya dan ketika aku ingin membuka pintu, tiba-tiba Mama Laras pun membuka pintu tersebut dan menatapku dengan tajam.

“Beraninya kau datang!!”

“Ada apa Ma?”, tanyaku sambil mengusap air mata.

“Kau tahu, Laras meninggal karena ia dirampok dan ditikam oleh dua orang pencopet di pasar Baru”

Mataku terbelalak dan tak percaya. Aku yang seharusnya menemaninya namun aku membiarkannya sendirian ke pasar, padahal aku tahu Laras memiliki trauma berada di keramaian.

“Plaaakkkk!!!!!!!!!!!!! Pergi kau Agu!! Mama tak mau melihatmu lagi!” Teriak Mama Laras di hadapan wajahku dan begitu sakitnya tamparan itu sehingga membuatku jatuh.

“Brukkk……………”

“Agu….Bangun….” Teriak mbak Nia di telingaku.

Aku pun bangkit dan menangis membuat mbak Nia terdiam bingung.

“Kau kenapa? Siang bolong kau teriak-teriak!”

“Laras mba!! Laras meninggal!” Jawabku dengan sesungukan.

Dengan cepat aku menyambar jilbab hijauku dan berlari ke rumah Laras. Aku tak tahu apa yang kulakukan namun yang pasti aku ingin melihat Laras. Ingin sekali. Aku mau minta maaf karena telah melupakan dan membiarkannya ke pasar sendirian.

Di depan pintu rumah Laras.

“Tok..tok..tok..!!!”

Mama Laras pun membuka pintu dan betapa terkejutnya aku melihat Mama memegang pisau besar dari dalam rumah.

“Ampun Ma! Agu yang salah…” Pekikku di hadapan mama.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dan memanggil namaku dengan lembut.

“Agu…kamu kenapa?”

“Laras!!!! Kamu masih hidup ya?”, tanyaku tak berdaya.

“Aku dari perpustakaan karena tadi tak jadi ke pasar, soalnya kamu ga mau menemani aku sih”, jawab Laras dengan gaya manjanya yang menyebalkan namun sangat kusayang.

“Aku minta maaf ya, tadi aku biarin kamu pergi karena aku sibuk dengan SMS gratisku”, pintaku pada Laras.

“Iya ga apa-apa, tadi kamu mimpi ya? Sampai kayak orang gila nangis-nangis di depan rumahku”

“Huh, aku tuh mencemaskan kamu”, jawabku dengan nada sebel.

“Ya udah, sekarang kan aku udah disini..Aman toh?”

“Berarti tadi aku mimpi dong…”, ucapku sambil menepuk jidatku sendiri dengan keras.

“Iya Agu yang manis…”, jawab Laras dengan senyuman lembutnya.

Laras pun mengantarkanku pulang ke rumah. Tibanya di rumah aku pun teringat sesuatu.

“Hmm…Laras, jangan lupa untuk aktifkan HP mu ya!”

“Kenapa?” tanya Laras keheranan.

“Ga apa-apa! Pokoknya aktifkan saja ya…” Jawabku sambil tersenyum.

***

“Tit..Tit..SMS masuk!”

“Apaan nih?” Dengan perlahan Laras membuka SMS yang dikirim oleh Agu, sahabatnya.

“Dear Laras Sahabatku,

Beribu kata-kata bijak yang kubuat, ternyata tak mampu mengalahkan kekuatan cintamu

Berjuta untaian motivasi terlantun, ternyata tak mampu menandingi ketangguhan sifatmu

Kau telah berikan aku sejuta cinta, namun sayangnya mataku buta

Kau telah berikan aku perhatian, tapi kau kulemparkan

Maafkan aku yang manis ini, yang telah membiarkanmu ke pasar sendiri

Love you

By Agustin Prahara Dewi”

Laras pun menghela nafas setelah membacanya. Memang sahabatnya yang satu itu tak pernah absen untuk mengirimkan SMS ke semua orang, namun kali ini isinya berbeda dan sepertinya ia hanya membuat khusus untuk satu orang, yaitu Laras.

***

Akhirnya Agu pun paham kepada siapa seharusnya SMS terakhir hari ini ia berikan. Laras. Sahabat sejatinya.

About fiyati

Saya adalah seorang anak perempuan yang lahir di Samarinda dan menempuh kehidupan sebagaimana biasanya, namun yang membuat saya berbeda ialah motto hidup saya yang takkan bisa dirubah oleh keadaan apapun jua. "Impossible is Nothing"

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s