KETIDAKSUKAAN, SUMBER PEMBELAJARAN

Standar

Segalanya berawal dari ketidaksukaan. Ya, tak ada satu pun kegiatan di dunia ini yang kita lakukan tanpa didahului dengan rasa tidak suka. Saat kita lahir ke dunia, kita menunjukkan ketidaksukaan itu dengan cara menangis.

Sebagai jabang bayi, kentara benar bahwa kita tidak menyukai kehidupan ini, tidak suka menjadi manusia. Namun, pelan-pelan kita belajar tentag banyak hal dari rasa tidak suka. Menjadi manusia itu ternyata menyenangkan. Memang, tertatih-tatih pada awalnya, dan kita makin tak suka ketika satu dua langkah kita berakhir dengan tersungkurnya kita di sebuah jalan, dengan satu-dua luka berdarah yang memedihkan. Setelah itu, lihatlah kemudian, manusialah yang menjalankan fungsi kekhalifan di muka bumi ini, bukan makhluk lain.

Rasa tidak suka juga menjadi sumber pembelajaran kita saat satu-dua perintah Tuhan kita terima sebagai kewajiban. Puasa, misalnya. Siapa yang suka melakukan ibadah yang satu ini? Tidak ada. Saat mestinya perut diisi, tapi kita justru sengaja mengosongkannya, bahkan ditambah dengan pantangan ini dan itu, demi menjaga nilai intrinsiknya. Begitu juga dengan shalat, yang mengharuskan kita melakukan ritual khusus (tanpa disambi dengan pekerjaan lain) dengan waktu-waktu yang telah ditentukan-beberapa waktunya bahkan “menganggu” keasyikan kita.

Apa yang kita dapatkan dari ketidaksukaan sebagai sumber pembelajaran? Dalam kasus ibadah puasa, rasa lapar yang kita benci justru memberi sumber kebaikan yang tak kita dapatkan dari aktivitas mana pun yang kita lakukan. Rasa lapar bukan saja menjadikan kita  lebih sehat, melainkan juga memperkenalkan kita dengan semangat setia kawan. Begitupun dengan ibadah shalat, yang mengajarkan kita tentang pentingnya manajemen waktu, kedisiplinan, konsentrasi-hal-hal yang sulit kita dapat dari kegiatan lagi.

Mengapa ketidaksukaan menjadi kata kunci pembelajaran? Ya, tentu saja, ketidaksukaan adalah bahasa verbal dari ketidaktahuan, keterbatasan, dan kesenjangan. Saat kita menerima ibadah puasa, ketidaktahuan kita tentang pengaruh puasa bagi kehidupan mendorong kita untuk pertama-tama menyukai nuansanya: bangun untuk sahur, shalat tarawih, berbuka. Dengan ilmu yang terbatas, kita tahan juga rasa lapar sampai waktu maghrib (meski satu dua kali terpancing emosi), kita jalankan juga tarawih (meski satu dua kali terlupa), kita baca juga Quran (meski satu dua ayat saja). Setelah ini, barulah kita menyadari bahwa ketidaksukaan adalah bentuk awal dari kegembiraan kita dalam menjalankan perintah-Nya, setelah kita melihat betapa banyak ruang kosong dalam diri yang harus diisi dengan ilmu Allah di seluas jagat raya.

http://www.annida-online.com/catcil/ketidaksukaan-sumber-pembelajaran.html

Vodpod videos no longer available.

About fiyati

Saya adalah seorang anak perempuan yang lahir di Samarinda dan menempuh kehidupan sebagaimana biasanya, namun yang membuat saya berbeda ialah motto hidup saya yang takkan bisa dirubah oleh keadaan apapun jua. "Impossible is Nothing"

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s