BILA AKU MENJADI…

Standar

“Kita sudah sampai sekarang”, Ujar Bapak sambil memarkirkan mobil kami di pinggir sebuah jalan.

Tak kusangka aku akan berada di tempat yang begitu ‘ndeso’ seperti ini. Kulihat sekelilingku yang penuh dengan  pohon dan bunga. Kuhirup udara pagi yang membalutku dalam sebuah kedamaian. Kudapati seorang Kakek tua memikul potongan rumput yang banyak dan ditangannya terdapat sebilah arit kecil. Inilah pemandangan yang dari dulu kuinginkan. Aku yang terbiasa berada di daerah perkotaan, selalu hidup dengan polusi. Entah itu polusi udara, atau pun polusi suara. Semuanya ada di kotaku. Namun kali ini sungguh berbeda, mimpiku untuk berada di sebuah desa akhirnya terwujud juga setelah Bapak mengajakku untuk pulang ke Kuren, Pacitan. Sebuah Desa yang harus ditempuh selama berjam-jam, belum lagi jalannya yang menanjak dan berliku menambah rasa penasaranku untuk tinggal di sana.

Bapak mengajakku ke salah satu rumah yang memiliki taman indah nan luas. Di dalamnya terdapat bermacam-macam bunga dan pohon. Aku pun berlarian kesana kemari layaknya seorang anak kecil yang kesenangan setelah mendapat permen. Kudekati sebuah pohon Cerry dan kulihat banyak sekali buahnya yang merah dan segar untuk dipetik. Selain itu, kulihat sebuah pot yang berisikan bunga Gelombang Cinta yang sangat disukai oleh Ibuku di rumah. Belum habis kekagumanku, tiba-tiba seorang wanita tua keluar dari rumah tersebut dan mengajak kami masuk. Mbah Prio namanya. Ia berbicara dengan bahasa Jawa dan aku tak mengerti apa yang sedang diperbincangkan dengan Bapak. Ia memegang tanganku dengan lembut dan mengajakku bicara, namun sayangnya aku tak paham sepatah kata pun dari semua yang ia katakan.

Bapak bilang padaku bahwa kita akan menginap di sini sehari. Aku pun setuju karena aku sangat ingin merasakan kehidupan di sini.

Rumah Mbah Priyo memang luas, namun isinya sangatlah terbatas. Di ruang tamu terdapat beberapa kursi rotan dan meja seadanya, itupun tampak reyot dan tua. Ruangan tersebut menyatu dengan ruang keluarga, terdapat sebuah televisi berukuran 14 inchi tapi sepertinya tak pernah dinyalakan karena rumah ini selalu ramai dengan suara pemiliknya, terkadang beberapa tetangga datang hanya untuk mengobrol hingga malam hari. Lantai rumah ini hanyalah terbuat dari semenan semata tanpa ada karpet tebal yang melapisi sehingga aku pun diharuskan memakai sandal di dalam rumah ini.

Sore tiba. Aku pun berjalan ke dapur, siapa tahu ada hal yang bisa aku kerjakan dan betapa terkejutnya aku melihat suasana dapur yang sudah seperti pantai Kuta karena lantainya berpasir dan kulihat Mbah Priyo menggoreng kacang tanah menggunakan pasir. What? Kok bisa? Banyak hal baru yang tak kuketahui dan aku pun belajar menggoreng menggunakan pasir. Awalnya aku tak mau menyentuh kacang goreng tersebut karena merasa jijik dengan cara menggorengnya namun Mbah Priyo dan Bapak meyakinkanku bahwa kacang ini sangat enak. Perlahan sebutir kacang masuk ke mulutku dan ternyata rasanya benar-benar enak.

***

Subuh telah tiba. Aku pun terbangun kala kudengar suara-suara orang di luar rumah, lalu kubuka jendela kamarku dan kulihat mbah Priyo sedang membawa ember-ember besar, entah dari mana ia mengambilnya namun tampaknya ia sangat kelelahan. Begitu aku keluar rumah dan ingin membantunya, ia pun menyuruhku untuk cepat mengambil air wudhu. Ternyata mulai jam 3 pagi ia pergi ke kali untuk mengambilkan air untukku berwudhu. Subhanallah. Bapak pun berkata padaku memang seperti inilah kehidupan di sini. Kehidupan Bapak dulu. Air mataku pun berlinang mengingat betapa mudahnya kehidupanku di kota, apapun yang aku mau selalu ada. Tapi di desa ini, aku harus berjibaku dengan waktu bila aku menginginkan sesuatu. Sungguh aku adalah makhluk yang paling tidak bersyukur dengan keadaan yang telah diberikan oleh Allah Swt. Alhamduliliah. Terima kasih Ya Allah.

Subuh telah berlalu. Aku baru teringat bahwa aku belum mandi dan ketika aku mencari kamar mandi, tak kutemukan satupun kamar mandi di rumah ini. Aku pun bertanya pada Bapak dan ia mengatakan bahwa kalau mau mandi harus ke kali. Rasanya aku mau pingsan saja begitu mendengar kata mandi di kali. Tapi karena Bapak tahu aku takkan mau maka beliau pun mengantarkan aku ke salah satu rumah tetangga mbah Priyo yang memiliki kamar mandi. Syukurlah.

Selesai aku mandi, tak kutemukan mbah priyo di rumah. Kata bapak, mbah priyo pergi ke kebunnya. Aku pun tinggal saja di rumah, namun karena bosan aku pun berjalan-jalan sekeliling rumah mbah priyo. Kudapati sebuah kandang sapi yang penuh dengan rumput, dalam hati aku berpikir bagaimana bisa seorang tua renta mampu melakukan pekerjaan ini semua. Lalu, menerawanglah imajinasiku bagaimana bila aku menjadi mbah priyo yang anaknya kini telah berkeluarga dan tinggal jauh darinya. Bapak saja merupakan keluarga jauh dari mbah priyo masih ingat untuk mengunjunginya, sedangkan anak-anaknya sendiri hilang entah kemana. Aku harus tinggal di rumah yang tanpa televisi. Aku yang terbiasa menonoton televisi jika aku pulang dari sekolah dan bisa menghabiskan berjam-jam hanya untuk menonoton program musik favoritku. Aku pun harus memasak di dapur yang bersuasanakan pantai Kuta karena pasir sebagai alasnya dan menggoreng dengan pasir. Batinku pun berpikir keras bagaimana aku bisa makan ayam goreng kalau begini caranya. Mau pesan antar, sinyal handphone saja tak ada disini. Bisa mati muda aku! Tiap pagi harus mandi di kali, mengangkut air yang jauhnya ratusan meter dari rumah hanya untuk berwudhu. Arrgghh…! Rasanya aku tak sanggup untuk melanjutkan wisata imajinasi ini karena untuk memikirkannya saja sudah pusing apalagi jika itu benar-benar terjadi.

***

Hari terakhir aku menginap disini. Aku merasakan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Di tempat inilah aku merasakan nikmatnya bersyukur dan mensyukuri apa yang telah aku dapatkan selama ini. Aku memang terlahir dari keluarga yang berkecukupan dan apa pun yang kuinginkan selalu terwujud sehingga untuk berada di tempat yang serba kekuarangan. Jika aku lapar, maka pembantu akan membuatkan aku makanan. Jika aku mau baju baru, maka uang pun mengalir dari mesin ATM. Jika aku mau dapat mobil baru, aku tinggal bilang. Kini kurasakan bahwa aku harus banyak-banyak bersyukur karena bila aku menjadi mbah Priyo, apakah aku sanggup melakukan itu semua tanpa mengeluh? Aku teringat sebuah penggalan kalimat dari blog yang hari ini kubaca, menyentilku tentang permasalahan bersyukur:

Bersyukur kepada Allah merupakan salah satu ujian dari Allah. Manusia dikaruniani banyak kenikmatan dan diberitahu cara memanfaatkannya. Sebagai balasannya, manusia diharapkan untuk taat kepada penciptanya. Namun manusia diberi kebebasan untuk memilih apakah hendak bersyukur atau tidak:

Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari setetes air mani yang bercampur. Kami hendak mengujinya dengan beban perintah dan larangan. Karena itu kami jadikan ia mendengar dan melihat. Sesungguhnya kami telah menunjukinya jalan yang lurus: Ada yang bersyukur, namun ada pula yang kafir. (Al-Insan: 2-3)

About fiyati

Saya adalah seorang anak perempuan yang lahir di Samarinda dan menempuh kehidupan sebagaimana biasanya, namun yang membuat saya berbeda ialah motto hidup saya yang takkan bisa dirubah oleh keadaan apapun jua. "Impossible is Nothing"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s