SANG MOTIVATOR

Standar

Terkadang kita berada di dalam sebuah titik jenuh dalam setiap aktifitas kita. Hal ini sering mengganggu konsentrasi dalam mengerjakan sesuatu. Entah itu mengerjakan pekerjaan maupun untuk berinteraksi sosial dengan orang sekitar rasanya sangat tidak menyenangkan. Lalu, akan kemanakah kita dan apakah yang akan kita lakukan guna mengusir rasa itu? Terkadang kita pun tak sengaja menemukan cara untuk menghilangkan rasa lelah, jenuh, ataupun rasa kekecewaan terhadap sesuatu yang tak bisa kita raih. Aku pun teringat dengan salah satu catatan hati yang pastinya akan bermakna dikemudian hari.

Suatu hari aku pergi ke sebuah undangan dari salah seorang abang. Di sana aku mengikuti kegiatan selama tiga hari. Awalnya tujuanku datang adalah ingin menimba ilmu baru. Hanya itu saja. Pertama kali kumasuk ke dalam ruangan yang ukurannya cukup luas untuk menampung puluhan orang itu, rasanya tak berbeda dari acara seminar biasanya. Kulirik kebanyakan dari mereka adalah para pahlawan tanpa tanda jasa atau sederhananya mereka adalah para guru. Kutatap wajah mereka yang terlihat lelah mengikuti kegiatan ini, namun masih kutemukan semangat mereka dalam menyerap semua informasi yang diberikan oleh sang pembawa materi. Beberapa dari mereka mungkin berusia seperti ayah dan ibuku, maka aku pun tak mau kalah untuk berkonsentrasi dalam kegiatan ini, namun ternyata isi dari kegiatan ini lebih condong kepada motivasi diri. Bagaimana caranya kita menumbuhkan perasaan itu dan mulai bergerak untuk meraih setiap impian kita. Tak perlu malu menyatakan impian-impian kita. Mulai dari impian yang kecil hingga yang rasanya tak mungkin untuk diraih, tapi dari situlah aku paham betapa berharganya waktu kita ini.

Salah satu bagian yang paling menarik dan sangat berkesan adalah ketika aku harus berbagi tentang semua impianku kepada salah seorang peserta yang ada di sana. Aku pun bertemu dengan salah seorang guru yang usianya sudah paruh baya. Ia terlihat sangat antusias dengan aktifitas tukar menukar impian ini. Aku pun menceritakan semua impianku padanya. Banyak kata yang kugunakan dan diawali dengan  “Aku mau menjadi seorang ini dan itu” atau “Aku mau punya ini dan itu”. Entah apakah aku terlihat bodoh ketika itu, namun itulah tugas kami yaitu bercerita tentang keinginan dan impian. Hampir 30 menit aku menceritakan semua inginku. Akhirnya kuakhiri juga semua ceritaku dan kulihat sang ibu sangat senang mendengarkan impianku. Ia mengatakan padaku bahwa aku pasti jadi orang sukses dan aku pun sangat bahagia mendengarnya serta mengamininya. Ia pun berkata bahwa insyaAllah, impian itu akan menjadi kenyataan selama kita terus berusaha dan berdoa. Tak ada yang tak mungkin di dunia ini kecuali ketidakmungkinan itu sendiri. Lalu, ketika giliran sang ibu tersebut, ia pun memegang tanganku dan menatapku dalam-dalam. Ia pun berkata bahwa ia pun memiliki anak seusiaku dan sangat periang. Aku pun bingung melihat dan mendengar sang ibu itu berkata seperti itu karena disini kami harus berbagi impian-impian kami.

“Kau tahu nak, apa yang menjadi impian ibu?” Aku pun hanya mampu menggelengkan kepalaku.

“Untuk orang seusia ibu ini, rasanya tak perlu lagi untuk banyak-banyak bermimpi demi kehidupan ibu sendiri. Aku pun tak mengerti dengan apa yang telah ibu itu katakan. Ibu punya seorang anak perempuan yang juga masih kuliah dan ia jauh di sana. Setiap hari ibu selalu memikirkannya. Apakah ia sudah makan atau belum? Apakah anak ibu tercukupi kebutuhannya di sana? Apakah ia kurus atau gemuk sekarang? Ibu tak tahu nak. Ibu ingin sekali menemuinya dan memeluknya jika nanti ia telah diwisuda, meski ibu yakin ia pasti malu apabila kawan-kawannya melihat. Ibu ingin mengatakan bahwa ibu sangat bangga padanya. Ia telah menjadi alasan ibu untuk bertahan dengan keadaan. Ia adalah anugrah yang terindah.”

“Kau tau impian ibu yang terbesar nak?” Tanyanya padaku.

Aku hanya menggelengkan kepada karena aku tak sanggup berkata-kata. Rasanya tenggorokanku cekat karena aku yang kini adalah seorang anak, tak pernah memikirkan hal tersebut. Aku yang sibuk dengan mengejar impian-impianku. Aku pun tak dapat menahan air mata kala ia mengatakan impiannya adalah melihat anaknya dapat diwisuda dan mendapatkan pekerjaan yang baik serta pada akhirnya ia berkeluarga dan mendapat seorang pemimpin yang baik.

Dengan nada yang lirih kuaminkan semua pintanya. Aku yang egois dengan seribu impianku. Sedangkan ia hanya meminta kebahagiaan untuk anaknya semata karena ia tak perlu dan tak ingin apa-apa lagi. Akhirnya kucium tangannya dan keningnya. Kurasakan telah kutemukan seorang motivator baru dalam hidupku. Ia bukanlah seorang yang harus tampil seperti layaknya orang terkenal, namun dengan kesederhaannya aku tahu bahwa setiap apa yang telah ia katakan adalah doa. Ialah Sang Motivator sejati yang ada di dunia ini.

Mohon ampun aku….

Thanks to: Allah Swt, Keluarga yang kucinta (Tak ada yang sempurna, Mari kita saling bergenggaman tangan dan berdoa yang terbaik bagi semua, I love you Father, Mother, Brothers and Sister…i am just the youngest that always want to get something and i dont know how to give my sacrifice, i am just a spoiled child.hehehe…), Kanda, Yunda, dinda, para motivator hatiku yang juga kawan dicintai Allah. Trims all!

Iklan

About fiyati

Saya adalah seorang anak perempuan yang lahir di Samarinda dan menempuh kehidupan sebagaimana biasanya, namun yang membuat saya berbeda ialah motto hidup saya yang takkan bisa dirubah oleh keadaan apapun jua. "Impossible is Nothing"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s