ENGKAULAH BIDADARIKU…

Standar

Taraweh kali ini…

Seperti Ramadhan sebelumnya, aku selalu menunaikan sholat Taraweh di mesjid kampung sebelah. Biasanya aku pergi bersama dengan Mbak Ratih, namun kali ini sangat berbeda karena Mbak Ratih kini berada di kota dan dia kuliah di sana. Katanya emak, Mbak Ratih ingin meraih impian menjadi seorang Sarjana Pendidikan agar ia bisa mengajari semua anak yang ada di kampung kami. Memang kampung kami sangatlah terbelakang untuk masalah pendidikan. Hampir seluruh keluarga di sini adalah lulusan SD saja dan hanyalah Mbak Ratih yang memutuskan untuk pergi ke kota agar ia bisa meraih pendidikan setinggi-tingginya. Mbak Ratih memang perempuan sholehah dan baik hati. Dia selalu mengajakku ke mesjid dan menggajarkanku tentang agama serta pelajaran yang ada di sekolah. Aku memang tak selesai SD, namun Mbak Ratih telah mengajarkan aku banyak hal terutama bagaimana caranya meraih impian.

Allahuakbar..Allahuakbar…!!!

“Waduh, sudah azan….”, Pekikku dalam hati.

Kucepatkan langkah kakiku melaju ke mesjid dan begitu terkejutnya aku melihat ternyata hanya ada beberapa orang saja yang sholat dan mereka semua sudah lanjut usia. Sedih. Kemanakah semua pemuda pemudi yang ada di kampungku ini? Padahal ini baru hari ke 12 bulan Ramadhan tapi mereka semua sudah menghilang. Apakah budaya rame-rame sholat hanya khusus untuk awal dan akhir Ramadhan saja? Hatiku yang panas segera tersegarkan ketika tarbir dimulai dan aku pun larut dalam ayat-ayat cintaNya.

Kucium kedua tangan nenek Salbiah yang berada di sampingku. Tangannya harum walau kerutan terlukis di kulitnya, tapi aku mencintai tangan ini. Ia pun bertanya padaku kapankah Mbak Ratih pulang dan aku pun tak bisa menjawab dengan pasti karena aku tak bisa berkomunikasi dengannya selama dia berada di kota. Aku hanya mampu berdoa untuk keselamatan dan kesuksesannya saja.

***

“Endah…Ndah…”, panggil kakak perempuanku.

“Ono opo to mba?”, jawabku dari dalam kamar.

“Ono Ratih neng omahe”, balas mbak Sri dengan semangat.

Mbak Sri memang sudah tahu bahwa aku sangat menanti kedatangan Mbak Ratih dari 3 tahun yang lalu. Ia tahu betapa rindunya aku dengan Mbak Ratih sehingga ketika Mbak Ratih datang maka aku lah orang pertama yang harus diberitahu. Aku pun mengambil jilbab ungu muda kesayanganku yang juga merupakan hadiah dari Mbak Ratih ketika aku memutuskan untuk menggunakan jilbab. Aku pun berlari ke rumah Mbak Ratih dan kulihat sesosok perempuan dengan jubah bunga-bunga dilengakapi dengan kerudung Ungu muda. Anggunnya. Kupanggil namanya dengan keras, memastikan bahwa perempuan itu adalah Mbak Ratih. Ia pun menoleh ke arahku dan ia tersenyum mendatangiku.

“”Kau sekarang tambah besar ya Ndah..”, kata Mbak Ratih padaku dan membuatku malu.

“”Iya dong…Wah, Mbak Ratih cantik sekali! Mbak kita jalan-jalan yuk…”, rengekku pada Mbak Ratih.

“Huss…Mbak Ratih ini baru saja datang..kau sudah ribut mengajaknya jalan. Biarkanlah mbak ini istirahat,” Sela mbak Sri mengingatkanku.

“Wes, nda apa-apa. Ayo kita jalan-jalan!”, Jawab mbak Ratih.

Selama berjalan kami hanya berdiam saja. Kulihat mbak Ratih sangat merindukan suasana kampung ini. Sebenarnya ada banyak pertanyaan di kepalaku, namun melihat mbak Ratih masih belum selesai dengan rasa kangennya maka kuurungkan niatku. Tiba-tiba ia bertanya padaku dan membuatku kaget.

“Endah mau melanjutkan sekolah?”, tanya mbak Ratih.

“Kenapa harus sekolah sih mbak?”, pertanyaan itu malah kubalikkan ke mbak Ratih.

“Memangnya Endah ndak punya impian?”, Tanyanya lagi padaku.

“Impian Endah Cuma satu mbak, yaitu bisa ketemu lagi dengan mbak Ratih”, jawabku polos seadanya karena memang itulah yang kuinginkan sejak bertahun lalu.

Setelah mendengar jawabanku, tiba-tiba air mata membasahi pipinya dan tersenyum kepadaku.

“Kenapa mbak menangis?”, tanyaku tak mengerti.

“Kan mbak Ratih sudah disini, apakah Endah ga pingin belajar lagi? Bukankah Endah masih muda? Masih banyak waktu untuk belajar dan berbuat yang bermanfaat bagi orang lain. Apakah Endah mau melihat mbak Ratih sedih?”, jawabnya yang membuatku bingung.

“Engg….enggak mbak!”, balasku singkat.

“Nah, kalau begitu Endah akan melanjutkan sekolah ya…di kampung sebelah ada sekolah yang bagus, nanti Endah belajar di sana. Kalau sudah tamat sekolah, Endah nanti bisa banyak membantu orang-orang di sini. Mengajarkan membaca, menulis, dan jangan lupa mengaji”, jelasnya padaku.

“Tapi sama mbak Ratih ya?”, pintaku dengan wajah yang memelas.

Ia pun tersenyum manis dan mengangguk. Kami pun melanjutkan perjalanan kami hingga kaki ini lelah. Akhirnya kami pun kembali ke rumah mbak Ratih dan ia pun beristirahat.

Ketika malam tiba aku tak bisa memejamkan mataku. Aku teringat ketika mbak Ratih akan pergi ke kota, aku menangis sejadi-jadinya di hadapannya dan berharap itu hanyalah mimpi semata, namun kata-kata mbak Ratih memadamkan api tangisku.

“Mbak pergi untuk meraih impian. Jika kita ingin menjadi orang yang baru dengan senyuman keberhasilan, maka pergilah kemana pun yang kamu mau agar mimpi itu menjadi nyata bahkan ke Cina sekalipun”

Ternyata kata-kata itu mampu membuatku diam dan membiarkan mbak Ratih pergi ke kota. Kini ia telah kembali dan membawa semangat baru. Kami akan melakukan hal bersama lagi. Akhirnya aku pun terlelap dengan ribuan rencana untuk melakukan hal-hal baru dengan mbak Ratih.

***

“Ndah..bangun de!”, suara mbak Sri mengagetkanku.

“Mbak Ratih sakit. Dia dibawa ke kota untuk diperiksa di rumah sakit”, ucap mbak Sri yang membuatku kaget.

Aku pun bangkit dan ingin melihatnya, tapi mbak Sri melarang. Kata mbak Sri aku tak perlu ke sana karena mbak Ratih sudah berangkat ke rumah sakit di kota. Aku pun mengambil air wudhu dan sholat untuk menenangkan hatiku yang gundah.

Keesokannya aku mendapatkan berita bahwa mbak Ratih harus rawat inap di rumah sakit karena ia menderita penyakit yang menyerang sistem syarafnya. Aku hanya bisa mendoakannya dari rumah berharap ia akan baik-baik saja disana.

***

3 tahun sudah lamanya aku tak bertemu dengan mbak Ratih semenjak kepergiannya untuk yang kedua kali karena ia harus ke rumah sakit. Aku menanti kedatangannya. Setiap orang kutanyai kapankah mbak Ratih akan kembali tapi tak ada orang kampung yang tahu. Kini aku telah menamatkan sekolahku di kampung seberang sesuai dengan pinta terakhirnya. Aku kini menjadi salah seorang pengajar di TPA mesjid kami. Aku mengajarkan mengaji dan setiap pagi aku pun mengajar di sebuah rumah baca yang dibangun oleh pak kades. Aku sangat mencintai apa yang sedang aku lakukan ini. Bermanfaat bagi semua orang. Seperti mbak Ratih.

Tiba-tiba sepucuk surat datang ke rumah dan itu dari mbak Ratih untukku. Ketika kubuka amplop ungu tersebut kudapati sebuah foto cantik darinya dan tentunya sebuah surat. Kubaca perlahan surat tersebut.

Untuk Adindaku, Endah.

Engkau adalah bidadari.

Bidadari yang lembut tetapi tidak lemah.

Bidadari yang mempersona tetapi tetap bersahaja.

Bidadari yang mengerti bagaimana menjaga akhlak dan kemuliaannya.

Dan itulah yang membuat engkau istimewa dari lainnya.

Ilmu telah mengangkat engkau menjadi permata terindah di dunia.

Aku menyayangi Engkau duhai Adindaku.

Teruskanlah perjuanganmu dalam mengajarkan panji-panji Islam.

Aku akan ada di sampingmu selalu.

Dari Ratih Purnama.

Kuhapus air mataku. Aku kini benar-benar rindu dengannya. Entah apakah mbak Ratih kini dalam keadaaan baik-baik saja, tapi itulah yang kuharapkan. Aku akan terus melanjutkan perjuangan mbak Ratih dan melunasi semua janjiku padanya agar menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitarnya. Aku tak tahu kapankah mbak Ratih akan datang menemuiku, namun satu hal ketika ia menuliskan surat ini sebenarnya ia pun menginginkan hal yang sama, namun mungkin ia kini sedang melanjutkan pengejaran akan semua mimpinya dan ia akan kembali dengan senyum yang sama dan kedamaian. Aku merindukanmu Yundaku, Ratih.

Iklan

About fiyati

Saya adalah seorang anak perempuan yang lahir di Samarinda dan menempuh kehidupan sebagaimana biasanya, namun yang membuat saya berbeda ialah motto hidup saya yang takkan bisa dirubah oleh keadaan apapun jua. "Impossible is Nothing"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s