Perbedaan Ruh dan Jiwa

Standar

I. Kata Al-Quran tentang Ruh:

1. Ruh adalah bagian dari Allah

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.
(Hijr, 15:29)

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. “. (Shaad, 38:72)

Dan ini yang menjelaskan pula mengapa malaikat dan iblis disuruh bersujud, karena pada diri manusia ditiupkan Ruh Allah. Jadi pada prinsipnya manusia memiliki “Ruh Allah”? Wallahualam.

2. Ruh kembali kepada Allah dan tidak menerima hukuman

Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar. (An-Naba’, 78:38)

3. Ruh hanya berkata-kata yang benar
Idem poin.2
Ruh tidak berkata dusta hanya mengucapkan kata yang benar

Ruh yang sejati selalu berkata kepada kebenaran dan ruh-ruh ini tidak pernah dihukum.
Saat manusia mati, maka ruh akan kembali kepada pemiliknya yaitu Allah SWT. Hal ini ditunjukkan oleh surat An-Naba’, 73:38, bahwa Ruh berbaris bersama malaikat pada saat hari kebangkitan.

4. Jibril makhluk Allah yang memiliki Roh dan secara definitif disebut Ruhul Quddus (Ruh yang suci) dan juga Ar-Ruh Al-Amin (Ruh yang amanah)

Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (An Nahl: 102).

dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril) (As-Syu’ara: 19),

4. Ruh urusan Allah, artinya adalah tidak ada petunjuk sama sekali wujud dan bentuknya
Ruh urusan Allah, artinya adalah tidak ada petunjuk sama sekali wujud, bentuk, dan sifat-sifatnya, tidak seperti halnya jiwa yang berulang kali di dalam Al-Quran disebutkan sifatnya yang tenang, marah, menyesali, kotor, merasakan hukuman. Ruh benar-benar suci dari sifat-sifat manusia. Karena ia adalah bagian dari Sang Pencipta sendiri, oleh karenanya ia memiliki sifat Sang Pencipta, Pengasih, Penyayang, Penyantun, dll. Ruh mengajak jiwa ke jalan yang diridloi oleh Allah, sehingga ia diseru oleh Allah. Jiwa yang dikuasai oleh Ruh tadi akan disebut sebagai Jiwa yang tenang (Nafsulmutmainah).

II. Kata Al-Quran tentang Jiwa (Nafs):

1. Jiwa Menerima Hukuman

“Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya.”
(Al-Mu’minun, 40:17)

Lantas siapa yang diadili dan dihukum saat kiamat kelak?
Yang dihukum adalah jiwa:
Saat manusia mati, maka ruh akan kembali kepada Sang Pencipta, dan dia akan ikut dalam barisan malaikat pada saat hari pengadilan sebagaimana tercantum dalam surat AnNaba 78:38. Maka jiwa mengalami peristiwa dramatis di alam kubur. Jiwa adalah “Sang Aku” pada diri manusia, pusat kesadaran, pusat panca indra jasad yang mendefinisikan rasa sedih, gembira, sakit, nyaman, dll. Jiwa inilah yang menghidupkan badan. Sedangkan ruh diperintahkan Allah untuk bersemayam

2. Sifat-sifat Jiwa

a. Jiwa yang Tenang

Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
(Al-Fajr, 89:27-28)

b. Jiwa yang Menyesali

dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).(Al Qiyamah: 3)

Dalam Al-Quran, ruh dan jiwa memiliki akar kata yang berbeda. Sehingga sangat definitive dapat dikatakan bahwa ruh dan jiwa adalah 2 hal yang berbeda. Ruh dirahasiakan oleh Allah. Jiwa berulang kali disebut, sebagai : Nafsulamarah, nafsullawamah, nafsulmutmainah. 3 katagori utama jiwa. Ruh manusia selalu suci, betapapun bejatnya seseorang ruh tidak pernah kotor, karena ia adalah milik Sang Maha Hidup. Ruh menjadi tidak berfungsi atau seakan mati saat ia selalu mengikuti hawa nafsu, atau hawa nafsu yang mengendalikan jiwa. Saat hawa nafsu sebagai pengendali maka ia akan menutupi Ruh tadi, Ruh selalu mengajak kepada jalan yang diridloi Allah. Panca Indra ruh adalah hati/Qolbu. Maka saat seseorang mengatakan hati nurani, maka sesungguhnya ruhnya sedang berbicara dan mengajak kepada kebenaran.

c. Jiwa yang Menyuruh kepada kejahatan

53. Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu(jiwa) itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.(Yusuf, 12:53)

Kesimpulan
Quran sendiri berkata bahwa Ruh berbeda dengan jiwa. Lantas mengapa manusia memiliki berbagai macam karakter ? Selain Ruh, manusia dilengkapi dengan jiwa, jiwa (nafs) adalah yang menghidupkan jasad dan panca indra, selain itu manusia juga diberi akal, dan ujian terbesar manusia adalah hawa nafsu. Yang membedakan dengan makhluk lain adalah, malaikat tidak diberi jasad dan nafsu, jin tidak diberi jasad, hewan tidak diberi akal. Dan dari semua makhluk yang diberi Ruh Allah hanya manusia??? Wallahualam.

Pengakitifan Ruh/Roh
Ruh, jiwa, akal, nafsu, semua saling terkait, selama seorang manusia hidup ke empat komponen utama ini saling berusaha untuk mendominasi. Saat seseorang dikuasai oleh hawa nafsunya, maka orang itu akan membawa kerusakan kepada alam semesta. Saat orang memuja akalnya maka ia sangat bergantung pada lingkungan yang membesarkannya, akal akan menyebabkan seseorang kepada jiwa yang bimbang (nafsullawamah) kadang baik kadang sesat. Sedangkan orang yang mengedepankan ruhnya, maka sesungguhnya nafsu, akal dan jiwa akan mengikutinya menuju kepada Tuhannya.

Tahapan bangkitnya kesadaran Ruhiah:
1. Dibuka oleh pikiran. Orang yang ditundukkan di jalan Allah melalui pikiran. Karena Allah memang memberi tanda-tanda keberadaanNya diseluruh jagad.
2. Ruh membisikkan kepada akal, jiwa dan nafsu kepada apa yang disebut kebaikan, maka kebaikan terlihat nampak universal. Ruh dikenal luas sebagai hati nurani, orang yang berbuat kebaikan disebut orang yang mengikuti hati nuraninya.
3. Ruh juga membisikkan jalan menuju Tuhan, bagi orang beriman bisikan ini diterjemahkan menjadi jalan pengabdian menuju kepada Sang Pencipta. Manusia primitive membuat aneka upacara persembahan kepada yang gaib karena mengikuti seruan Ruhnya, sedangkan kita dibimbing dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.
4. Ruh yang melesat menuju Tuhan, orang-orang yang selalu memendam kerinduan untuk kembali kepada PenciptaNya.

 

Ini adalah salah satu artikel yg sangat bermanfaat bagi saya…

source: http://wahjoe.blogspot.com/2007/08/quran-bercerita-tentang-ruh-dan-jiwa.html

About fiyati

Saya adalah seorang anak perempuan yang lahir di Samarinda dan menempuh kehidupan sebagaimana biasanya, namun yang membuat saya berbeda ialah motto hidup saya yang takkan bisa dirubah oleh keadaan apapun jua. "Impossible is Nothing"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s