Sudahi Saja Semua…

Standar

Kulemparkan pandanganku jauh ke luar jendela. Kutulikan pendengaranku dari semua ocehan mas Rano pagi ini. Bagaimana tidak, ia hari ini mendatangiku untuk meminjam uang hanya untuk membeli sebungkus rokok. Kutarik nafasku dalam-dalam. Aku memang bukan termasuk orang-orang yang mudah luluh dalam hal-hal seperti ini. Ketika aku tau ini tidak akan menjadi hal yang berguna, maka aku tidak akan bergeming.

Aku memang bukanlah orang berada, namun aku tau kapan aku harus menggunakan uang dan untuk apa saja itu. Aku pernah mempelajari materi manajemen sehingga bagiku dalam kehidupan sehari-hari aku harus menerapkannya. Bagi Mas Rano, aku bukanlah orang yang tepat untuk diajak bicara, namun tampaknya ia sangat bersikeras untuk mendapatkannya.

Selama ini ketika aku melihat ada orang yang sedang asyik merokok, timbul pertanyaanku; Apa yang sebenarnya ia dapatkan dari hisapan rokok tersebut? Membuatnya mudah berpikir? Alah..nonsense!

“Din, gimana? Ada gak kau uang?” tanya Mas Rano dengan kasar.

Aku tetap membisu menatap beberapa anak yang sedang asyik bermain bola di lapangan dekat rumah kami. Tiba-tiba Mas Rano mengambil sebuah piring dan melemparkannya ke lantai. Suara gaduh pun memenuhi rumah kami yang sederhana. Aku pun berdiri tepat di hadapannya.

“Cukup sudah Mas! Kali ini aku tidak akan memberikan apa-apa! Jika kau marah silakan saja kau banting semua piring yang ada, tapi setiap pecahannya takkan bisa menggertakku!” jawabku tegas padanya.

Baru selangkah kaki, ia pun menarik tanganku.

“Kau tega melihatku miskin seperti ini? Aku ini kakakmu” tanya Mas Rano padaku seolah menghiba.

Aku diam membisu melihat tingkahnya. Kulihat tubuhnya yang tinggi tegap dengan kulit yang menghitam karena bekerja di bawah terik matahari. Hatiku tak karuan. Aku benci sebenci-bencinya pada Mas Rano, tapi aku pun sayang padanya. Setiap kali ia meminta, selalu kuberi. Entah mengapa hari ini aku ingin sekali mengakhiri semua drama ini.

Aku masih ingat ketika aku dan mas Rano sering bertengkar karena berbeda argumen dan akhirnya Ibu memisahkan kami berdua dengan segala nasihatnya. Terkadang aku berpikir Ibu terlalu baik pada Mas Rano, tapi bagi ibu tidak. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak berbincang dengan Mas Rano karena capek dengan ocehannya dan semua permintaannya.

Hari ini tepat tanggal 31 Mei, hari dimana ibu meninggalkan kami semua. Masih kuingat pesan terakhir ibu kepadaku untuk menjaga Mas Rano. Air mataku mengucur deras mendengar permintaan ibu. Bagaimana tidak? Aku telah lama memilih diam di hadapan Mas Rano karena benci dengan kelakuannya, tapi ibu tetap memintaku menjaganya. Apakah ibu tidak salah bicara? Namun kusanggupi permintaan itu sebelum ibu akhirnya menutup mata.

“Din?” Suara Mas Rano mengembalikan kesadaranku.

“Mas, aku sudah berjanji kepada ibu untuk menjaga mas Rano walau pun mas tau bahwa aku tidak sepenuhnya setuju dengan semua itu. namun aku menghargai permintaan ibu mas. Aku memang adikmu, selama ini aku memang bersikap acuh padamu karena aku sakit melihat kau pulang dari kerja serabutan dan tidak menghasilkan apa-apa. Aku sakit ketika aku tau kau sedang mengangkat beras sementara aku sedang berdiri di atas podium menerima sertifikat kelulusan. Mas, kita ini sudah sama-sama dewasa, bisa merasa. Aku sayang Mas Rano, tapi kenapa mas tidak bisa menyanyangi aku. Mas, aku bisa memberimu uang tapi itu sama saja aku sedang mendorongmu ke jurang mas. Aku tak mau begitu, aku sudah janji kepada ibumu untuk menjagamu. Aku ingin sekali kau tau bahwa aku ingin kau bahagia, tidak lagi bekerja sana sini” Suaraku bergetar karena tangis yang sekian lama kutahan.

Ia pun duduk di kursi ruang tamu. Kudatangi ia, kulihat wajahnya. Astagfirullah, Mas Rano menangis. Cepat-cepat kupegang tangannya dan meminta maaf apabila aku lancang berkata begitu. Ia pun memandangiku, lalu berkata sesuatul yang tak pernah aku dengar dari mulutnya selama ini.

“Maafkan aku Dinda.Ajak aku kembali pulang ke rumah. Aku lelah. Aku malu padamu. Maafkan aku adikku. Maafkan Aku.”

Akhirnya kami pun kembali membangun persaudaraan yang bertahun-tahun telah retak. Keberanian untuk mengatakan hal yang sejujurnya adalah kunci pengikat hati kami. Terima kasih Tuhan.

About fiyati

Saya adalah seorang anak perempuan yang lahir di Samarinda dan menempuh kehidupan sebagaimana biasanya, namun yang membuat saya berbeda ialah motto hidup saya yang takkan bisa dirubah oleh keadaan apapun jua. "Impossible is Nothing"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s