MAAFKAN FIA, MAK

Standar

Penulis: Yanti Sipayung

Angin berhembus membawa hawa dingin memasuki kamar melewati celah-celah saluran udara. Bulu kudukku berdiri karenanya. Kutarik selimut hingga menutupi kepala. Guling ku peluk kuat-kuat demi meredakan dingin yang menyerang.
Lama ku tutup mata, berkonsentrasi penuh agar kantuk yang kutunggu sedari tadi segera datang dan membawaku pulas dalam tidur. Namun perjuanganku tak membuahkan hasil. Kedua mata ini masih kuat menganga. Aku masih juga tak mampu melenakan diri dalam mimpi walau petugas ronda di luar sana telah memukul tiang listrik dua kali yang mengartikan jam telah menunjukkan pukul 2 dini hari.
Masih membayang dengan jelas sosok tak berdaya yang menemaniku selama enam bulan ini. Sebelumnya, wanita tua yang telah hilang kemandiriannya itu selalu berada di sampingku. Tapi malam ini, beliau tak ada lagi bersamaku. Aku sendiri dalam kebingungan dan kehilangan dia yang cukup membuatku repot selama ini.
“Mamak sudah bangun?” Segera kuhampiri Mamak begitu melihat kedua matanya telah terbuka. “Duduk, ya.”
Aku mendudukkannya. Kulepaskan kaus kaki, sweater, dan syal yang membantu memberi kehangatan untuk Mamak setiap malam.
“Ntar Fia ambil minum dulu ya, Mak.”
Aku melangkah menuju dapur dan kembali dengan membawa secangkir air putih untuk Mamak.
“Minum dulu, Mak.” Kusodorkan ujung pipet ke bibir Mamak.
“Fia tinggal bentar, ya. Fia mau masak, juga beres-beres rumah.”
Wanita yang masih kusut wajahnya itu menganggukkan kepala, mengerti dan setuju dengan perkataanku.
Dengan sedikit tergesa aku kembali beraksi melanjutkan pekerjaan-pekerjaan yang harus ku selesaikan setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, tempatku melaksanakan tugas mencari nafkah.
“Mandi ya, Mak.”
“A…” Mamak menjawab.
Dengan posisi jongkok aku melingkarkan kedua tanganku di bawah ketiak Mamak. Lalu dengan mengerahkan seluruh tenaga aku mengangkatnya agar bisa berdiri. Kutopang tubuhnya yang terasa sangat berat. Kuletakkan kaki kanannya diatas kaki kananku sementara kedua tanganku tetap melingkar di bawah ketiaknya.
Mamak melangkahkan kaki kirinya dengan bibir yang meringis kesakitan. Lalu kulangkahkan kaki kananku dengan kaki kanan Mamak tetap ada diatasnya. Dengan cara begitulah aku menatahkan Mamak. Separuh badan Mamak yang lumpuh karena stroke, mengakibatkan Mamak tak mampu berbuat apapun sendiri. Semuanya harus menunggu bantuan orang. Mulai dari bangun tidur, makan, berpakaian, duduk, mandi, bahkan membuang kotoran pun, semua harus dilayani. Kemampuan berbicaranya juga raib. Hanya a dan u, dua aksara itu yang bisa keluar dari mulutnya.
Mamak sudah bersih dan terlihat segar. Aroma ompol yang tadi begitu dahsyat menyakiti indera penciuman telah berganti dengan aroma rempah-rempah yang baru saja kululuri di tubuh Mamak.
“Assalamu ‘alaikum…” Seseorang di luar sana mengucapkan salam.
“Wa’alaikum salam.” Sahutku.
Bu Warni langsung menuju dapur begitu aku membuka pintu. Ibu bertubuh gempal itu telah siap melaksanakan tugasnya. Tanpa merasa canggung ia membuka lemari tempat penyimpanan makanan. Diambilnya nasi bersama lauk yang masih panas. Dengan sendok ia tekan-tekan nasi dan sayur di atas piring Mamak agar lebih lumat, dan Mamak bisa dengan mudah menelan makanan itu tanpa harus mengunyahnya.
“Mak, Fia berangkat kerja. Kalau mau sesuatu, kasih isyarat sama Bu Warni, ya.” Kukecup kening Mamak sebelum melangkah keluar rumah.
“U…” Mamak menganggukkan kepalanya.
“Obat ramuannya udah saya siapin diatas lemari es. Jangan lupa habbatussauda, sari kurma dan madunya ya, Bu.” Aku mengingatkan. “Habis minum obat, tolong Mamak dibawa keluar ya, Bu. Saya titip Mamak, Bu. Assalamu ‘alaikum…”
“Wa’alaikum salam. Hati-hati, Fia.”
Bu Warni yang tadinya hanya bekerja mencuci dan menyetrika pakaianku setiap pekan sekali, kuamanahkan untuk menjaga dan melayani Mamak selama aku diluar. Dari pagi hingga lewat tengah hari, sekitar pukul 14.00 WIB, Bu Warni lah yang menemani Mamak menggantikan posisiku.
Semua kujalani dengan ikhlas. Walau kadang terdengar keluhan dari bibirku saat Mamak membandel tak menuruti kata-kataku. Mamak sering melepas sendiri diapersnya. Mungkin ia merasa risih atau gatal. Sehingga ketika ia buang air besar, kotorannya berserak dan membuatku kesulitan membersihkannya. Atau ketika Mamak mengeluarkan sedu sedannya, menangis entah lantaran apa. Lidahku kerap berdecak kelepasan rasa kesal dihadapan Mamak.
Kehadiran Mamak telah membuang kesepian di rumah kontrakanku. Selama ini, aku sendiri tanpa ada yang menemani. Paling hanya ketika Nadia, Selly, Deni, Arif dan Mutia yang setiap sore les di rumah yang membuat keriuhan. Atau saat anak-anak tetangga yang kepayahan mengerjakan PR dari guru-guru mereka di sekolah mendatangi rumahku. Hanya saat-saat itulah dari rumahku terdengar suara. Selebihnya, karena aku tinggal sendiri, tak akan ada terdengar suara-suara orang berbicara.
Dengan Mamak, walaupun aku seolah bercakap sendiri – karena Mamak hanya menimpali ucapan-ucapanku dengan anggukan dan gelengan ditambah a dan u – cukup lumayanlah menghilangkan kesepianku selama ini.
***
“Kenapa ya, Mamak tak sembuh-sembuh?”
Kak Dewi berucap sembari memijat-mijat pundak Mamak.
“Bu Ani kawan sepengajianku yang hampir bersamaan sakitnya sama Mamak, sekarang sudah sembuh.” Lanjut Kak Dewi.
“Bu Siti tetanggaku sakitnya sama dengan Mamak. Stroke juga. Tapi, dia cuma dua kali berobat, kok udah sembuh, ya.” Kak Yus turut menyuarakan isi hatinya.
“Memang patut dipertanyakan.” Kak Ida bergabung. “Gimana tuh, Fia, pengobatan alternatif yang kamu tunjukkan sepertinya cuma buang-buang uang aja. Mamak nggak ada kemajuan.”
Aku tak bisa menjawab. Untuk yang kesekian kalinya saudara-saudaraku menyalahkanku. Memang aku yang mengusulkan agar Mamak dibawa ke sebuah klinik terapi dekat rumah kontrakanku. Namun jika ternyata Mamak tak kunjung sembuh, kondisinya tak mengalami kemajuan sepesat yang mereka harapkan, apakah aku patut untuk disalahkan.
“Kenapa kita dulu mengikuti saran si Fia, ya?” Bang Ari menambah kekusutan hatiku. “Udah berapa juta uang kita terbuang percuma.”
Kalimat-kalimat yang mengiris hati seperti itulah yang selalu kudengar setiap kali saudara-saudaraku berkunjung ke tempat tinggalku. Hari Minggu yang seharusnya menjadi momen yang menyenangkan karena semua anak Mamak bisa berkumpul bersama, ternyata menjadi hari yang menambah kecamuk hatiku. Namun walaupun begitu, aku berusaha tetap bersabar atas ragam ucapan mereka yang bagiku cukup menyakitkan. Aku tetap melayani Mamak seperti biasanya, tidak terpancing dengan apapun yang mereka utarakan.

“Kamu ajakin ngomong donk, Fia. Mamak ini sekarang ibaratnya anak kecil. Kalau anak kecil nggak diajakin ngomong sama Emaknya, bakalan lama pintar bicara. Begitu juga dengan Mamak, kalau kamu selalu sibuk dengan pekerjaanmu, gimana Mamak bisa cepat ngomong lagi.” Kak Dewi mengajariku.
“Di depan situ ada tukang urut, kamu bawa Mamak sekali-sekali kesana, biar nggak cuma mengharapkan satu tempat pengobatan aja.” Kak Ida tak mau kalah memerintah.
“Kenapa bukan kalian yang bawa? Kenapa harus Fia?” Kali ini aku tak kuat lagi menahan luap kekesalan.
“Lha, kan Mamak di rumahmu. Bukan di rumah kami.” Kak Ida menjawab sekenanya.
“Bukankah seharusnya kalian membesarkan hatiku karena aku telah mau mengurusi Mamak dan mengizinkannya tinggal di rumahku. Kenapa pula kalian terlalu banyak berkomentar mengenai kondisi Mamak, padahal aku yang paling tahu perubahan Mamak dari saat pertama kalinya jatuh sakit. Kalian membanding-bandingkan Mamak dengan orang lain, samakah sakit Mamak dengan sakit orang yang kalian bandingkan, sama pulakah usianya. Mengajak Mamak berbicara, aku melakukannya setiap kali aku tak ada kegiatan. Jika memang kalian, merasa lebih mampu dan berfikir bisa lebih baik mengurus Mamak, kenapa bukan kalian saja yang mengurusnya.” Rutuk kekesalan meletup-letup di hatiku.
***
“Mamak tinggal sama Kak Dewi, ya.” Ujarku kepada Mamak sambil menyuapinya makan malam.
“A… a…” Mamak menggeleng kuat.
“Atau di rumah Kak Yus aja, ya.”
“A… a…” Kembali Mamak menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu di rumah Bang Ari?”
Mamak menggeleng kembali. “A… a….” Akhirnya Mamak menangis.
“Trus, Mamak mau dimana?” Tanyaku melunak.
“U…. U…” Kepala Mamak mengangguk-angguk.
“Disini?”
“U… u…” Kembali Mamak mengangguk pertanda setuju.
“Tapi, Mak, mereka harus diberi pelajaran,” desisku.
Hati dan fikiran warasku telah dikalahkan ego yang berlebihan. Aku menelepon semua saudaraku. Kutegaskan kepada mereka bahwa aku tak mau mengurus Mamak sendirian. Tugas dan tanggung jawab melayani Mamak harus berpindah tangan. Cukup aku melaksanakan tugas itu sendiri selama 6 bulan ini. Jangan karena aku anak bungsu, satu-satunya yang belum berkeluarga, mereka sesuka hatinya menindasku. Tidak. Mereka, kakak-kakakku tidak bisa berbuat semena-mena terhadapku.
***
“Maksud kamu apa?” Kak Dewi terkejut mendengar apa yang kusampaikan. “Di rumahku nggak bisa. Kamar di rumah cuma ada dua. Anakku ada tiga. Mau dimana Mamak dibuat?”
“Huh, alasan yang dibuat-buat,” dalam hati aku berucap.
“Rumahku sering kena banjir. Gimana nanti kalau banjir, Mamak kan kasihan.” Kak Yus mencari alasan untuk menolak kebagian tugas berat ini. Padahal walau pekarangannya sering banjir, tapi air tidak pernah masuk ke rumahnya.
“Aku kerja, mana mungkin aku bisa mengurus Mamak.” Kak Ida turut menolak.
“Aku juga bekerja, tapi aku bisa merawat Mamak,” kilahku dalam hati.
Bagaimana dengan Bang Ari? Menolak jugakah ia?
“Rumahku kecil, Fia. Anakku juga masih kecil. Aku minta tempo. Nanti kalau aku sudah dapat rumah yang lebih baik, aku janji akan mengambil alih tugasmu.” Tolak Bang Ari
“Tidak, Bang. Tugas harus digilir. Mamak adalah ibu kita semua, bukan hanya ibuku. Tugas dan tanggung jawab harus dipikul sama-sama. Selama ini aku tidak keberatan merawat, mengurusi, melayani semua keperluan Mamak. Kalian yang memancing emosiku. Menilai bahwa semua yang kulakukan kurang dan selalu kurang. Kalian hanya bisa berkomentar, menyuruh tanpa mau merasakan bagaimana capeknya melaksanakan tugas ini. Kalian tidak tahu bau pesing Mamak seperti apa. Kalian tidak pernah menyebokinya, mengganti diapersnya, membawanya ke kamar mandi dengan susah payah, menatahkannya sekuat tenaga. Yang kalian tahu hanya menilai dan menilai.” Kutumpahkan semua emosiku diiringi derai air mata.
***
“A… u… a… u…” Mamak menggeleng-gelengkan kepalanya kuat dan berteriak mengeluarkan tangisnya. Tangannya ia lambai-lambaikan kearahku. Kutafsirkan itu adalah sebuah penolakan atas keputusan yang kuambil secara sepihak.
Mata ini tak lepas memandangi sebuah taxi yang membawa Mamak dan tas berisi pakaian-pakaiannya meninggalkan halaman rumah. Air mata tak bisa kubendung, pipiku basah oleh air mata yang mengalir deras, tak percaya dengan kebisaanku, mengusir Mamak dari rumah.
“Maafkan Fia, Mak. Fia hanya berniat memberi pelajaran kepada mereka. Agar mereka juga merasakan apa yang Fia rasakan.” Aku berbisik.
***
Terdengar bunyi tiang listrik yang dipukul petugas ronda sebanyak empat kali. Pukul empat pagi. Aku masih belum juga bisa tidur. Mengingat perih dan suka bersama Mamak selama enam bulan tak mampu juga membuatku melayang apalagi tertidur. Yang ada hanya kegelisahan yang terus menerus dan semakin gila menghantuiku.
Segera kuambil jilbab, jaket, helm dan kunci kontak motorku. Setelah mengunci semua pintu, motor kulaju sekencang yang aku dapat, menuju seseorang yang telah berjasa tak terkira kepadaku namun sanggup kulupakan amal jasanya.
“Mamak mana, Kak?” Aku bertanya kepada Kak Tia, istri Bang Ari karena tidak kutemukan Mamak, begitupun Bang Ari di rumahnya.
“Bang Ari baru saja pergi bawa Mamak ke rumah sakit. Mamak tak mau makan sejak siang tadi berangkat dari rumah kamu. Mamak juga nggak mau bicara. Mamak terus menutup matanya. Menjelang Maghrib tadi, dia demam tinggi dan beberapa kali kejang. Takut ada apa-apa, Bang Ari langsung bawa Mamak.”
Tanpa menunggu Kak Tia menuntaskan penjelasannya, kembali kupacu motorku menuju rumah sakit. Dalam hati aku terus berdoa sembari berbisik, Maafkan Fia, Mak.
***
“Mak… Mamak….” Mamak tetap tak bergerak. “Maafin Fia, Mak.” Kedua mataku mulai mengucurkan air. “Fia mohon… Bangun, Mak. Fia janji akan terus merawat Mamak, tidak akan menyerahkan Mamak kepada siapapun. Bangun, Mak… Bangun…” Rintihku pilu. “Ya, Allah beri aku kesempatan untuk lebih banyak membaktikan diri untuk orangtuaku,” do’aku dalam hati.
Kuraih tangan Mamak dan meletakkannya di wajahku. Kucium benda keriput itu. Kemudian kuletakkan keningku di telapak kakinya yang dingin. “Bangunlah, Mak. Maafkan, Fia. Berikan Fia kesempatan menjadi ashabul firdaus dengan menjaga dan merawat, Mamak.”
***
“Fia, Mamak sudah sadar.” Bang Ari menyentuh pundakku.
Aku terbangun dari tidur yang tak kusengaja.
“Alhamdulillah, terimakasih ya, Robb.” Aku langsung bersujud menghaturkan syukurku kepada Yang Maha Kuasa.
“A… U…. U…. A….”
Aku mengangguk dengan keharuan mendalam. “Iya, Mak. Mamak mau di rumah Fia aja, kan? Gitu Mamak udah kuat, kita balik ke rumah ya, Mak.”
“U…” Mamak mengangguk.
“Mamak mau maafin Fia, ya.” Bisikku lembut persis di telinga Mamak.
“U….” Kembali Mamak mengangguk.
Kupeluk tubuh renta itu kuat-kuat. Aku berjanji tak akan mengulang segala bentuk kedurhakaan kepada Mamak tercinta, sampai kapanpun atau dengan alasan apapun.###

(Selesai. Cerpen selanjutnya Rabu, 27 April 2011. Tetap setia di Annida-Online yaah!)
http://annida-online.com/media.php?module=detailartikel&id=2906&page=2

About fiyati

Saya adalah seorang anak perempuan yang lahir di Samarinda dan menempuh kehidupan sebagaimana biasanya, namun yang membuat saya berbeda ialah motto hidup saya yang takkan bisa dirubah oleh keadaan apapun jua. "Impossible is Nothing"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s