KETIKA PERANG BELUM JUA USAI, MAKA…

Standar

Siang menyeringai di beranda rumahku, namun tetap kusambut dengan hamparan jilbab warna-warni yang telah kujemur sedari pagi tadi. Tak ada yang tak memiliki hikmah. Semua selalu ada. Baik atau pun buruknya sebuah peristiwa.

Aku teringat tentang kejadian kemarin. Kubermain dengan debu yang lama telah menghiasi rumah tua. Tanganku kotor dan wajahku berdebu, namun takkan berarti sebuah tindakan tanpa ada semangat yang menemani. Aku tak peduli siapa yang ada di samping, di depan, dan di belakangku. Ketika kita memiliki niat, maka lakukanlah.

Sebuah hal yang menarik selama aku berada di rumah tua. Kudapati sebuah boneka lucu kecil yang usang. Ia tergeletak tanpa ada yang memperhatikan keberadaannya. Kuperhatikan dia dengan seksama. Kulihat masih ada label yang tertempel di bajunya. Ia baru namun usang. Kasihan. Tak ada yang membersihkannya. Aku yakin jika ia berada di tangan yang tepat, yaitu seorang bocah kecil dengan poni lucunya, maka boneka itu pasti akan menjadi benda yang paling teristimewa. Entah mengapa ia berada di tempat yang salah. Ia hanya menjadi boneka kecil lucu yang terbuang.

Selain itu, kuraih sebuah piala yang tak pernah dibersihkan. Aku pun teringat masa kecilku dulu, ketika mengikuti festival anak sholeh dan untuk pertama kalinya di hidupku, aku memegang pialaku sendiri dan dalam hitungan menit piala itupun diambil dariku. Yang kuingat hanyalah, piala itu akan ditaruh di dalam lemari penyimpanan khusus untuk semua penghargaan dari daerahku. Itulah mengapa betapa berharganya sebuah piala bagiku, bukan bendanya tapi bagaimana besarnya pengorbanan untuk mendapatkannya. Sayang seribu sayang, ketika mendapati sebuah piala yang usang di rumah tua itu dan piala itu tak pula terperhatikan. Aku hanya berdoa semoga seseorang yang telah berjuang mendapatkannya, masih mengingat keberadaan piala itu. Jangan sampai menjadi piala yang terbuang.

Dua hal itu hanyalah segenggam cerita dari sekeranjang peristiwa. Dibalik setiap keputusan selalu ada konsekuensinya. Tak perlu takut dengan sekelumit kata-kata. Jika mereka adalah kata-kata, maka jadikahlah kita sebagai tindakannya.

Ketika kau rasa perang belum jua selesai, maka Berdamailah dengan dirimu sendiri, lalu perhatikan apa yang terjadi.

About fiyati

Saya adalah seorang anak perempuan yang lahir di Samarinda dan menempuh kehidupan sebagaimana biasanya, namun yang membuat saya berbeda ialah motto hidup saya yang takkan bisa dirubah oleh keadaan apapun jua. "Impossible is Nothing"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s