RUBIK YANG TAK PERNAH SELESAI

Standar

By Fiyati Utami

Saat kubersihkan kamar lamaku yang berada di lantai dasar, kutemukan sebuah rubik 4×4 yang telah berdebu. Entah sudah berapa lama ia menghuni kamar kosong itu. Aku telah lama pindah dari kamar itu, semenjak ayah membuatkan aku kamar baru dengan ukuran yang lebih luas dan pemandangan yang lebih indah di lantai atas. Kulihat tiap sisi dari rubik tersebut, tidak ada satu pun yang memiliki posisi dengan benar. Hijau bertemu dengan biru serta kuning yang bertemu dengan putih. Tidak ada satu sisi pun yang berwarna sama.

Masih jelas ingatanku ketika aku pertama kalinya membeli kubus rubik ini. Saat itu semua orang yang berada di sekitarku sedang asyik bermain dan berusaha untuk menjadi orang yang tercepat untuk menyelesaikan permainan ini, namun sayangnya itu tidak terjadi padaku. Beberapa kawan memberikanku rumus agar aku dapat melakukannya sendiri. Ada yang telah mencatatkan dengan kode warna, ada pula yang mencatatkan dengan kode posisi. Memang aku bisa menyelesaikannya, namun tak pernah aku menyelesaikannya sendirian tanpa bantuan dari orang lain.

Ketika aku melihat orang lain dapat melakukannya dengan cepat bahkan ada yang sambil menutup mata, maka hatiku pun panas bukan main. Kuterus mencoba walau gagal tak pernah berhenti menemani. Satu per satu kawan-kawanku mahir dalam memainkannya, tapi tidak untukku. Bagiku ada rumus atau tidak, semua itu sama saja. Akhirnya aku pun berhenti dan berpikir jiwaku bukan disana. Rubik yang kupunya tak pernah kurubah atau kucoba untuk menyelesaikannya, ia kupajang di atas meja sebagai tanda aku gagal menjinakkan benda mati tersebut.

Hari ini ketika aku menemukannya kembali di kamar, rasa malu menyerangku. Ternyata aku mudah menyerah dan tak menyukai tantangan. Aku terlalu termanjakan oleh bantuan orang lain sehingga malas untuk berusaha sendirian. Akhirnya, kubuka kembali buku catatanku satu tahun lalu, di mana aku menulis rumus tersebut. Kuutak-atik kembali rubik itu setelah lama tak pernah kusentuh. Keringat menetes deras seriring dengan keinginan kerasku untuk menyelesaikannya. Akhirnya, misteri itu kupecahkan juga. Kini dengan bangga kutaruh ia di atas meja, tanda inilah keberhasilanku yang pertama. Setelah kuambil fotoku bersama dengan rubik tersebut, dengan berat hati ia kuacak kembali dan mulai berlatih lagi untuk menjinakkan benda mati ini sekali lagi.

Samarinda, 22 Mei 2011

About fiyati

Saya adalah seorang anak perempuan yang lahir di Samarinda dan menempuh kehidupan sebagaimana biasanya, namun yang membuat saya berbeda ialah motto hidup saya yang takkan bisa dirubah oleh keadaan apapun jua. "Impossible is Nothing"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s