DRAMA RAMA

Standar

Penulis: Masmo Meimus

11 Juni 2009
“Pokoknya kita nggak bisa diam seperti ini terus!”

“Tapi kita juga nggak boleh bertindak gegabah!”

“Apanya yang gegabah?! Teman-teman kita sudah banyak yang mereka tangkap. Kita tidak bisa mengandalkan polisi sepenuhnya. Keadaan sudah semakin semwarut!!”

“Cut! Cut! Cut!!” potong Rama. “Tarjo, kamu salah lagi ngomongnya. Yang benar tuh semrawut!! Bukan semwarut!!” jelas Rama pada Tarjo. Cukup berat memang tugasnya sebagai sutradara, meski ini hanyalah sebuah latihan drama. Rama harus bisa mengatur teman-temannya.

“Coba kamu ikuti kata-kata saya, Jo!” pinta Rama. “Biar kamu nggak salah lagi,” lanjut Rama. Tarjo mengangguk pelan.

“Sem?!” arah Rama.

“Sem.” Tarjo mengikuti.

“Ra?!”

“Ra.”

“Wut?!”

“Wut.”

“Sem-ra-wut!!”

“Sem-wa-rut!” Tarjo kembali salah melafalkan.

“Aduuuuh!! Waktu kita sudah nggak banyak lagi untuk tampil!” pekik Rama.

“Eh, aku punya usul, Ram,” ujar Doni tiba-tiba.

“Apa?!” sahut Rama.

“Kata semrawut diganti saja dengan kacau balau,” usul Doni.

“Hmmm…” Rama berpikir sejenak.

“Artinya kan sama saja. Biar si Tarjo nggak repot juga dialognya. Kasihan dia, sudah dua puluh lima kali salah ngomong semrawut,” jelas Doni.

“Oke, boleh juga.” Rama mengiyakan.

“Oke, kita ulang lagi, Jo!” perintah Rama. “Siap semua?!”

“Siap!” Teman-teman lainnya menyahuti.

“Action!”

“Pokoknya kita nggak bisa diam seperti ini terus!”

“Tapi kita juga nggak boleh bertindak gegabah!”

“Apanya yang gerabah?! Teman-teman…”

“Cut! Cut! Cut!!” Rama memotong lagi dialog Tarjo. “Bukan gerabah!! Tapi gegabah!” jelas Rama.

“Waduh-waduh…” Doni hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Rama yang mulai kesal terhadap Tarjo .

“Bagaimana sih kamu, Jo?! Kau bilang, kau sudah sering ikutan bermain drama waktu SD?” tanya Rama.

“Iya, waktu SD aku sering dipilih oleh guruku untuk ikut main drama,” jawab Tarjo.

“Biasanya kau berperan sebagai apa waktu SD?” tanya Rama tegas.

“Jadi pohon,” jawab Tarjo polos.

12 Juni 2009

Dua minggu lagi pesta perpisahan SMP akan digelar. Selama dua minggu itu jualah tenggat waktu tersisa yang masih dimiliki Rama untuk mempersiapkan pertunjukan dramanya. Sebenarnya ia juga malas harus mengurusi drama kalau bukan Pak Pur sendiri yang meminta. Pak Pur adalah guru yang paling disegani di sekolahnya. Selain mengajar pelajaran kesenian, ia juga menjabat sebagai wakil kepala sekolah.

Rama tak ingin mengecewakan Pak Pur dan guru-guru lainnya yang telah memberikan kepercayaan penuh kepadanya. Apalagi banyak temannya yang sering menanyai dan menanti-nanti pertunjukan dramanya nanti. Problema melanda Rama. Dilema meraja. Di dasar hatinya, rasa sedih mendidih menjadi-jadih. Menurutnya, teman-temannya itu hanya ingin melihat hasil petunjukan dramanya, namun tidak bersedia untuk ikut proses pengerjaannya.

13 Juni 2009
“Mau pesan apa, Dik?”

“Soda susu, Bang,” pilih Rama.

“Saya juga,” tambah Doni. “Kamu juga mau soda susu, Jo?” tanya Doni.

“Enggak ah, aku masih belum berani,” jawab Tarjo.

“Belum berani kenapa?” Doni bingung.

“Belum berani minum susu.”

“Lho, memangnya kenapa? Kamu sedang diet? Takut kegemukan?”

“Bukan itu..” sela Tarjo. “Lha wong aku udah kurus banget gini, kok malah mau diet. Gak mungkin itu..” jelas Tarjo

“Lalu kenapa? Takut jerawatan? Takut kena kanker? Kantong kering? Hehehe..” ledek Doni.

“Hahaha..” Rama ikut tertawa.

“Bukan itu,” bantah Tarjo.

“Lalu?”

“Aku dengar di berita,” ujar Tarjo pelan setengah berbisik. “Susu sekarang banyak yang berkelamin!” lanjut Tarjo.

“Hah?? Berkelamin?!” Rama kaget plus bingung.

“Bermelamin mungkin maksudnya?” tanya Doni memastikan.

“Eh, iya bener. Bermelamin maksudku tadi,” ralat Tarjo. Rama terlihat sedikit lega sekarang. Hampir saja ia membatalkan pesanan soda susunya tadi.

“Hahaha…” tawa Doni meledak .

“Hahaha…” Rama pun ikut tertawa melihat keluguan Tarjo barusan.

“Hehehe, maaf aku salah,” Tarjo ikutan nyengir seperti kuda lumping namun lugu. Bukan garang.

“Aku teh manis saja,” ujar tarjo.

14 Juni 2009
“Action!”

“Keadaan sudah semakin gawat! Polisi tidak mau menanggapi laporan kita. Mereka itu sudah seperti kura-kura dalam kolam. Pura-pura tidak…”

“Cut! Cut! Cut!!” potong Rama. “Bukan kura-kura dalam kolam. Tapi kura-kura dalam perahu!!”

“Maaf, Ram,” ujar Tarjo pelan.

“Kita ulangi sekali lagi!” komando Rama. “Siap??”

“Siap!” ujar teman-teman yang lain.

“Action!”

“Keadaan sudah semakin gawat! Polisi tidak mau menanggapi laporan kita. Mereka itu sudah seperti kura-kura dalam perahu. Pura-pura tidak tahu.”

“Hukum kita memang sudah bobrok. Keadilan bisa diperjual-belikan. Haruskah kita menggelar bemo?”

“Cut! Cut! Cut!!” potong Rama lagi. “Doni, kenapa kamu jadi ikutan salah sih?! Bukan menggelar bemo, Don! Yang benar itu menggelar demo!”

“Maaf, Ram. Aku juga nggak tahu nih kenapa jadi ikutan salah kayak si Tarjo. Tapi tenang Ram, aku janji ini adalah kesalahan dialogku yang pertama sekaligus yang terakhir.” Janji Doni.

“Oke, aku pegang kata-katamu, Don,” tegas Rama. “Kita ulang sekali lagi! Siap semua?!”

“Siap!”

“Action!”

“Keadaan sudah semakin gawat! Polisi tidak mau menanggapi laporan kita. Mereka itu sudah seperti kura-kura dalam perahu. Pura-pura tidak tahu.”

“Hukum kita memang sudah bobrok. Keadilan bisa diperjual-belikan. Haruskah kita menggelar demo?”

“Percuma! Cuma panas yang akan kita dapatkan.”

“Benar. Musuh kita punya kekuasaan di pemerintahan. Kitalah yang harus segera bertindak sendiri.”

“Baiklah. Teman-teman, siapkan persenjataan kalian!”

“Siap!”

“Bawa senjata AK-47 kalian semua!”

“Siap!!”

“Pakai rumpi anti peluru kalian!”

“Cut! Cut! Cut!!” potong Rama kembali. “Bukan rumpi, Jo! Tapi rompi!”
Teman-teman yang lain hanya terdiam.

“Memangnya kau pikir ini adegan ibu-ibu yang sedang ngegosip?!” tegas Rama. “Rompi! Bukan rumpi!”

15 Juni 2009
Rama masih bingung memikirkan nasib dramanya. Ia sudah terlanjur mempercayakan Tarjo sebagai pemeran utama. Semua temannya yang lain sudah kebagian peran dan dialognya masing-masing.

Seringkali ia menawarkan teman-teman yang lainnya itu, termasuk Doni, agar mau bertukar peran menjadi pemeran utama menggantikan Tarjo. Jawaban mereka tak ada yang memuaskan. Tidak ada satupun teman yang bersedia.

16 Juni 2009

Sepuluh hari lagi Rama harus menunjukkan hasil pelatihan berhari-hari tim dramanya itu. Apapun yang terjadi, tim dramanya harus tampil. Pertunjukan drama itu sudah masuk daftar susunan acara perpisahan sekolah.

17 Juni 2009
H-9. Tak ada pilihan. Rama dan kawan-kawan harus lebih kerja keras lagi dalam latihan. Pada pertunjukan drama di perpisahan sekolah nanti, mereka harus tampil mengesankan.

“Action!”

“Esok pagi, kita harus siap menyerang musuh!”

“Ya!”

“Kerahkan semua pasukan malam ini!”

“Baik!”

“Kita harus kuat!”

“Hidup!”

“Jangan pernah berhenti di tengah jalan. Kita harus tetap berjuang sampai tetes air mata penghabisan!”

“Cut! Cut! Cut!” potong Rama. “Bukan tetes air mata penghabisan, Jo! Tapi tetes darah penghabisan!”

18 Juni 2009
H-8. Tetap tak ada pilihan. Rama dan kawan-kawan harus tetap berjuang mempersiapkan pertunjukan drama sampai tetes darah penghabisan.

“Action!”

“Meskipun secara angka jumlah kita kalah, tapi kita tetap harus berjuang!”

“Siap!”

“Kita harus selalu semangat!”

“Semangat!”

“Kita tidak boleh optimis!”

“Cut! Cut! Cut!!” potong Rama. “Bukan tidak boleh optimis, Jo! Tapi tidak boleh pesimis!” Tarjo hanya terdiam.

“Kita ulangi sekali lagi!” komando Rama. “Masing-masing siap semua?!”

“Siap!” yang lain menyahuti.

“Action!”

“Meskipun secara angka jumlah kita kalah, tapi kita tetap harus berjuang!”

“Siap!”

“Kita harus selalu semangat!”

“Semangat!”

“Kita tidak boleh pesimis! Ingat! Tak ada yang boleh mundur dalam perang kali ini!”

“Siap!”

“Sebelum subuh semua personil harus sudah siap!”

“Siap!”

“Ingat! Tetap jaga kekompakan dan solidaritas! Bersatu kita tegak!”

“Cut! Cut! Cut!!” potong Rama lagi. “Mana ada peribahasa kayak gitu?! Dari dulu sampai sekarang, bersatu itu ya kita teguh! Bukan tegak!” jelas Rama kembali.

19 Juni 2009
H-7. Berarti tinggal seminggu lagi tenggat waktu yang tersisa menuju panggung pertunjukan drama. Rama sepertinya pesimis akan hasil pertunjukan dramanya nanti. Wajar memang. Pasalnya, Tarjo, sang tokoh utama dalam pertunjukan drama tersebut, masih belum bisa menguasai perannya. Setiap kali latihan drama, ia selalu saja melakukan kesalahan dialog puluhan kali bahkan ratusan kali.

“Bang, es jeruk satu!” pesan Rama.

“Saya juga, Bang!” Tarjo ikut memesan.

“ Satu lagi, Bang! Berarti jadi tiga es jeruknya.” Doni menimpali.

“Hari ini kita ndak latihan drama?” tanya Tarjo tanpa sungkan.

Rama hanya diam.

“Kamu masih mau melanjutkan drama ini kan, Ram?” Doni ikut berbicara.

Rama masih diam. Belum ada kepastian dari mulutnya.

“Aku nggak tahu,” tiga kata akhirnya keluar juga dari mulut Rama. “Sepertinya ada yang salah dengan drama ini.”

“Kamu harus tetap semangat, Ram!” sergah Doni. “Ya walaupun aku pikir dialog dan jalan cerita dalam drama ini terlalu kaku bagiku, tapi aku masih tetap akan berusaha maksimal.”
Rama terdiam kembali. Doni juga tak bisa berbicara lebih banyak lagi. Ia tak ingin perkataannya nanti menyinggung perasaan Rama. Hening pun melanda sebentar.

“Sekarang kalau mau foto itu mahal, ya?” tanya Tarjo mengubah topik pembicaraan.

“Kamu yang mau foto, Jo?” tanya Doni.

“Iya, tapi sekarang aku cuma bawa uang lima ribu”

“Kalau mau foto murah, di sebelah rumahku saja,” usul Doni. “Lima ribu dapat banyak.”

“Beneran, Don?” mata Tarjo berbinar-binar.

“Iya, tapi pakai mesin fotokopi. Hahaha…” Doni tertawa. Rama juga ikut tertawa. Tarjo cemberut, mulutnya manyun dikulum, mukanya ditekuk lucu.

Tiga gelas es jeruk datang. Mereka jadi sibuk dengan es jeruknya masing-masing.

“Kawan-kawan, aku punya tebak-tebakan nih,” ujar Tarjo memulai percakapan kembali, setelah ia selesai menyeruput es jeruknya.

“Apa?”

“Apa bedanya Superman dengan Supermi?”

“Emm… memangnya apa, Jo?” Doni balik bertanya.

“Kalau Superman rambutnya lurus. Kalau Supermi rambutnya keriting,” jelas Tarjo.

“Hahaha…” Tarjo tertawa sendirian. Kedua temannya masih diam.

“Hehehe… Gimana? Lucu kan tebak-tebakanku tadi?” tanya Tarjo.

“Nggak!” sahut Doni.

“Garing!” tambah Rama.

“Busuk, Jo, tebak-tebakanmu!” Doni ikutan lagi.

Raut wajah Tarjo tiba-tiba kembali berubah. Mukanya kembali ditekuk manyun.

“Hahaha…” Rama tertawa. Bukan karena tebak-tebakan Tarjo tadi, tapi karena melihat muka Tarjo yang tiba-tiba saja berubah mengkerut.

“Hahaha… Nggak usah cemberut begitu, Jo.” Doni ikut tertawa.

“Ya, aku tahu jawabannya,” Rama tiba-tiba saja behenti tertawa.

“Jawaban apa, Ram? Tebak-tebakan Tarjo tadi kan sudah diberi tahu jawabannya?” Doni bingung, sehingga ikut berhenti tertawa.

“Kita akan tetap menampilkan pertunjukan drama. Aku akan memperbaiki drama ini.”

26 Juni 2009
“Kemarin aku sms si Yuli.”

“Lho, memangnya kamu sudah kenalan sama dia?”

“Belum. Tapi aku sudah dapat nomor hape-nya dari si Euis.”

“Kamu sms apa ke Yuli?”

“Aku bilang lewat sms, ‘Yuli, kamu sudah makan belum?’”

“Kalimat sms-mu aneh, Jo. Mana mungkin si Yuli balas sms kamu. Dia kenal sama kamu saja belum.”

“Dia balas sms aku, kok.”

“Hah? Apa balasannya?”

“Dia balas, ‘Maaf ini siapa ya? Kayaknya anda salah sambung deh’.”

“Hahahahaha…” semua penonton ikut tertawa melihat aksi drama Tarjo. Doni pun jadi favorit kedua penonton, setelah Tarjo, dalam pertunjukan drama itu.

“Hahaha… kapok kamu, Jo!”

“Ah, aku biasa-biasa saja, Don. Justru malam harinya aku langsung menelpon si Yuli.”

“Diangkat sama si Yuli?”

“Enggak.”

“Hahahahaha… ” tawa penonton kembali meledak. Suasana jadi semakin ramai. Pak Pur dan para guru yang lain pun tak kuasa menahan tawa mereka.

“Tapi aku tetap tak menyerah, Don.”

“Lalu?”

“Lalu aku segera pergi ke rumah Yuli.”

“Kamu ngapain di sana?”

“Aku langsung ‘nembak’ dia di rumahnya.”

“Terus kamu diterimanya?”

“Aku ditolak.”

“Hahahahaha…” Para penonton lagi-lagi tertawa untuk yang ke sekian kalinya. Semuanya tertawa begitu lebar dan puas. Tak terkecuali Rama, sang “sutradara”, yang berada di belakang panggung.

“Plok… Plok… Plok…” Bunyi tepuk tangan para penonton beserta gelak tawa mereka ikut menutup bagian akhir dari drama tersebut.

Pertunjukan yang sungguh indah. Penampilan yang begitu memukau dari Tarjo, Doni, dan kawan-kawan. Ide yang sangat brilian dari Rama, sang sutradara, yang berani merombak total cerita drama yang sebelumnya ingin bertemakan drama aksi yang menegangkan menjadi drama komedi yang terbukti begitu menggelikan dan mengocok perut para penonton.

Rama mengubah semuanya di H-7 sebelum pertunjukan. Rama sadar drama aksi terlalu sulit untuk ditampilkan oleh Tarjo dan kawan-kawan. Rama melihat Tarjo dan Doni memiliki sifat humoris yang tinggi dalam pergaulan sehari-hari bersamanya.

So, komedi adalah tema termudah dan tercocok untuk Tarjo dan Doni mainkan, pikir Rama waktu itu. Selama seminggu itulah Rama dan kawan-kawan mempersiapkan drama habis-habisan. Dan hasilnya pun sangat membanggakan meski hanya dalam waktu seminggu berlatih. Sejak saat itu dan sampai kini, Rama selalu meyakini bahwa setiap di balik kesulitan selalu ada kemudahan. (*)
Setiap penyakit pasti ada obatnya. Setiap masalah pasti selalu ada jalan keluarnya. Sebagai manusia kita hanya perlu menemukan obat dan jalan keluar tersebut. Karena, Tuhan tidak akan membebani seseorang di luar kesanggupannya.

http://annida-online.com/artikel-3685-drama-rama.html

About fiyati

Saya adalah seorang anak perempuan yang lahir di Samarinda dan menempuh kehidupan sebagaimana biasanya, namun yang membuat saya berbeda ialah motto hidup saya yang takkan bisa dirubah oleh keadaan apapun jua. "Impossible is Nothing"

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s