Kohati Harus Eksis Kembali di Kampus

Standar

Dikutip dari http://bataviase.co.id/node/468649

MUSYAWARAH Nasional Korps HMI Wati (Kohati PB HMI) akhirnya memilih Fitriani (24), kader Kohati PB HMI cabang Loksumawe, Aceh sebagai Formatur Ketua Umum. Sebanyak 83 suara memilihnya dalam pemilihan yang dihelat, Minggu (7/11) dini hah. Dia mengalahkan rivalnya Dinnah Muhiddin dari cabang Ciputat yang memperoleh suara 40, dan Megayana Ahmad sebanyak 30 suara.

Sejumlah program pun dicanangkan perempuan kelahiran Alue Jamok, 6 Juni 1986 ini. Menurut Fitriani dari dulu hingga kini, Kohati lebih paling banyak mengalami kendala yang berasal dari internal Kohati itu sendiri. Menurut Fitriani, luasnya cakupan dan banyaknya cabang Kohati se-Indonesia yang berjumlah 159 cabang dan tersebar di 33 provinsi, ini menjadi kendala besar ketika harus menjangkau teman-teman di daerah terpencil. Sehingga, acap kali kegiatan-kegiatan Kohati PB HMI kurang terakses kader-kader Kohati di daerah,* jelas Bendahara Umum MPM STAIN Malikussaleh Lhokseumawe (2008-2009) ini.

Fitri, sapaan akrabnya, mengakui meski pada kepengurusan Kohati periode sebelum-sebelumnya dinilainya sudah berjalan maksimal, hanya karena cakupan yang luas dan banyak itii, menjadikan hambatan itu selalu terus terjadi.

Mantan Ketua Kohati Cab Lhokseumawe (2008-2009) ini menginginkan Kohati kembali pada dasarnya, yakni di internal Kohati membawaisu keperempuanan dan penyadaran isu-isu tentang itu, baik bagi HM1-wati maupun HMl-wan. Adapun di eksternal, Kohati melakukan dan mengawal isu-isu keperempuanan dan menjawab segala persoalan keperempuanan Indonesia. “Saat ini, baik di pusat atau daerah, Kohati terus mengawal bersama dengan organisasi perempuan lainnya, untuk mengekspos atau mengadvokasi beberapa hal menyangkut persoalan perempuan, seperti KDRT, TKW, dan buruh perempuan.” kata Fitri.

Lulusan STAIN Malikussaleh Lhokseumawe (2008) ini juga memimpikan Kohati kembali pada program dan kegiatan Kohati yang berpusat di kampus. Menurut Fitri, saat ini Kohati sedikit melupakan aktivitas di kampus, karena lebih banyak berbicara eksternal kampus.

“Kegiatan Kohati di kampus itu yang kurang, karena itu Kohati harus eksis kembali di kampus. Ini juga harus berbarengan dengan langkah HMI kembali ke kampus, menggal-akkan kegiatan intelektual dan pro-gam lainnya di kampus,” papar Ketua Umum DPM Jurusan Tarbiyah STAIN Malikussaleh Lhokseumawe (2007-2008) ini.

Secara riil, kata Fitri, Kohati harus memenuhi kebutuhan mahasiswi di kampus, dengan menciptakan figur di kampus, agar menjadi suri tauladan bagi semua mahasiswa, baik keintelektualannya maupun kesalehan sosial. “Paling tidak, muncul figur seperti itu dari Kohati. kader Kohati bisa memotivasi yang maha-siswa-mahasiswi kalau pun tidak semuanya, minimal orang-orang di sekitarnya,” papar dia.

Karena itu Kohati harus melahirkan muslimah yang berkualitas insan cita. Perempuan yang memiliki wawasan intelektual yang baik, bertangung jawab, penuh dengan nilai keislaman, dan selalu berusaha terbaik untuk masyarakat. “Semua itu untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Itu tujuan besar dari HMI, Kohati ada untuk pencapaian itu,” tegas Sekum BPL HMI Cab Lhokseumawe (2008-2009) ini.

Secara konteks Indonesia, ke depan Kohati masih akan lebih banyak mengawal isu keperempuanan. Dikatakan dia, saat ini yang diperlukan perempuan bukan hanya kesetaraan dan pengakuan, tapi bagaimana menyadarkan semua orang,laki-laki dan perempuan akan sensitif gender, dan itu menjadi bagian tugas dari Kohati. “Menyuarakan hak-hak perempuan dengan bersinergi dengan lembaga masyarakat keperempuanan, untuk satu tujuan menyuarakan aspirasi perempuan tapi dengan membawa nilai keislaman dan keindonesiaan,” ujar dia.

Agar bisa seperti itu, jelas Fitri, langkah awal yang harus dilakukan adalah mengoptimalkan semua struktur Kohati dari pusat, Badko, Cabang, hingga komisariat. Namun, tutur dia, Badko ke depan akan lebih dioptimalkan. Badko harus menjadi koordinir semua kegiatan Kohati di daerah, karena itu dalam Badko akan dikawal masing-masing bidang internal Kohati dan akan membuat-peran yang besar.

Selain itu, Kohati pun tetap akan menciptakan pola training yang akan memberikan kapasitas, dan mengasah potensi kader HMl-wati. Dengan seperti itu, Fitri berharap, akan lahir paling kurang 20 persen di tingkat cabang se-Indonesia perempuan HMI yang siap lahir berkontribusi di segala hal. “Saat ini lebih banyak alumni Kohati yang menjadi pendidik, dalam dua tahun ke depan diharapkan akan lahir perempuan HMI siap bertarung di semua ranah,” tutur Dosen STAIN Malikussaleh Lhokseumawe (2009) ini.

Terkait persoalan gender, secara pribadi, Fitri merasakan tantangan yang besar adalah berasal dari diri perempuan itu sendiri. Masih ada keengganan dari perempuan karena persoalan kultural, seperti norma dan stigma di masyarakat.

Kendala kultural ini, diakui dia lebih sulit. Menurut Fitri, persoalan budaya bangsa ini masih belum memungkinkan perempuan beraktivitas di luar. Karena itu Kohati harus bekerja keras memberikan kesadaran dan pemahaman di masyarakat, tentu dengan nilai keislaman, keindonesiaan yang menjadi ciri Kohati.

Independensi Kohati, bagi Fitn merupakan harga mati. Ditegaskan dia, setiap gerakan Kohati independen, boleh saja bekerja sama dengan pemerintah dan semua lembaga yang ada, tapi dalam pergerakannya tidak ada campur tangan mereka. “Kita bergerak karena itu konsep kita, kesadaran kita, bukan digerakkan. Kohati tidak bisa dibayar, itu harga mati bagi kita,” tegas dia (eboy)

About fiyati

Saya adalah seorang anak perempuan yang lahir di Samarinda dan menempuh kehidupan sebagaimana biasanya, namun yang membuat saya berbeda ialah motto hidup saya yang takkan bisa dirubah oleh keadaan apapun jua. "Impossible is Nothing"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s