Masuk Telinga Kiri, Keluar Telinga Kanan

Standar

Sering dengar kalimat di atas ga? Biasanya itu keluar dari mulut seorang guru yang sedang memarahi muridnya yang bandel karena gak bisa di kasih tau (btw, mungkin ga mau dikasih tau, maunya mungkin dikasih hadiah hape baru kali ya). Kali ini bukan tentang alkisah Guru dan muridnya, tapi ini kisah tentang seorang anak muda yang katanya kurang motivasi untuk berkarya.

Saya pernah bertanya kepada sekelompok anak-anak muda yang merasa ‘Mandul’ kreatifitas.
S: “Kenapa koq akhir2 ini jarang ngadain kegiatan?”
A: “Kami kurang motivasi deh kayaknya”
S: “Lha, perasaan kemarin udah dikasih motivasi sama seniornya yang datang jauh2 dari negeri seberang”
A: “Iya sih, tapi masa kita2 aja”
S: “Oh gitu toh”

Nah itu dia, kita sering mendapat motivasi dari sana sini, dikasih ide sana sini, dan diberi tantangan dari orang-orang terdahulu kita untuk melakukan hal yang lebih, tapi kenapa yang motivasi itu hanya masuk di telinga kiri terus keluar dari telinga kanan? Apa yang salah? Motivasinya atau telinganya? hehehe.

Kita sering tidak menyadari bahwa dari segala motivasi dan tantangan yang sudah diberikan itu sulit merasuk ke dalam pikiran kita, karena kita sendiri yang menolaknya. Ga percaya? Misalnya si Udin, baru dikasih tau gurunya untuk membuat tong sampah dari bahan bekas, eh karena merasa tak ada kawannya, si Udin pun berkata saya ga bisa bu guru. Sayang sekali ya…nah berarti sebenarnya kita sendiri yang menolak dan membuat tembok tinggi terhadap motivasi tersebut.

Tak jarang kita selalu manggut2 saat motivasi itu tengah diberikan, tapi habis itu ya sudah selesai karena kita tidak menyiapkan diri secara mental untuk menerima saran dan perubahan tersebut. Terkadang kita rela menanti berminggu-minggu demi menunggu massa untuk membantu kita. Apakah kita akan diam saja dan berharap datangnya hujan emas? Ow, tidak bisa (Sule mode on).

Memang setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda, ada yang responnya cepat, ada yang sulit untuk sensitif, ada pula yang kelewat melow. Tapi bukan berarti kita pun membentengi diri dari motivasi tersebut. lalu berkata “Bukan saya banget deh!”. Cobalah untuk BUMBATA! Motivasi itu tidak hanya dari sosok manusia, tapi dari banyak hal. Permasalahannya adalah maukah kita mengizinkan motivasi itu kita coba untuk diwujudkan?

Berani menerima motivasi, berarti berani menerima tantangan untuk menjadi lebih baik lagi.

“Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, jika mereka sendiri tidak mengubahnya”

Marilah kita saling mengingatkan dalam kebaikan. Saling membantu. Saling mengasihi. Saling beriringan agar terciptanya harmoni🙂

Adinda Fiya
Samarinda, 23 oktober 2011
(Masih di bawah langit kelabu yang diramaikan dengan suara petir yang getir)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s