‘LUCK’

Standar

By Fiyati Utami

Terkadang saya merasa hidup saya penuh dengan luck atau kata orang keberuntungan. Dalam tiap fase hidup yang di lewati selalu banyak rintangan yang menghadang namun keberuntungan selalu menemani. Lalu pertanyaannya adalah, apakah segala yang telah dimiliki saat ini adalah hanya sebuah keberuntungan semata? Lalu bagaimana dengan kemampuan atau kompetensi yang dimiliki? Apakah hal tersebut mempengaruhi atau tidak sama sekali?

Ada hal-hal yang tak dapat dimengerti di dunia ini hanya dengan logika dan itulah yang menjadi sebuah pertanyaan besar di kepala saya: Apakah yang saya miliki ini adalah benar-benar dari hasil sebuah kompetensi seseorang di bidangnya ataukah hanya faktor keberuntungan saja?

Memang saya selalu merasa menjadi orang yang bodoh, maka dari itu saya belajar untuk merubah hal tersebut hingga 180 derajat. Terkadang hal-hal kecil semacam pengetahuan umum pun tidak saya kuasai dengan baik bahkan saya tidak tahu sama sekali, contohnya saja tentang Tahun kabisat dan tentang perhitungannya, sedangkan orang-orang di sekitar saja tau akan hal ini. Dengan kebodohan yang saya miliki inilah terkadang membuat saya berpikir ‘hebat sekali saya bisa berada di sini sekarang’.

Dari hati yang paling dalam, saya pun tak rela jika apa yang terjadi ini di klaim sebagai faktor keberuntungan saja. Fase gelap Fase terang, semua pernah dilalui. Bahkan kembali membuka file lama dan rela mencarinya kembali di ricycle bin hanya untuk menemukan pengetahuan yang sempat diabaikan karena merasa tak perlu saat itu.

Saat ini memang bukanlah lagi mencari jati diri seperti 5 tahun lalu karena hal tersebut sudah pernah ditempuh melalui pembentukan karakter oleh orang-orang, yang saya sebut mereka sebagai motivator, namun ada kalanya di sisi kosong dalam diri ini mempertanyakan akan eksistensi diri di dunia ini serta aktualisasi diri yang belum sepenuhnya terpenuhi di dunia nyata. Maka akhirnya timbullah perdebatan di dalam diri tentang ‘Luck’ dan ‘Competency’.

Di tengan perdebatan yang menggalaukan suasana hati, tanpa sengaja mata pun tertuju pada Sajadah yang terhampar sejak tadi di sudut kamar dan menggemparkan duniaku yang terlalu materialistik.

Tuhan,
Kau lah pemilik segala yang aku telah akui sebagai milikku
Maafkan aku yang sudah berani menatap ke atas
Tanpa menyadari bahwa Kau pemilik segala
Mohon ampun aku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s