Silakan Tertawa Pada Kegagalan Saya

Standar

Silakan. Kata pertama sebagai pembuka kisah ini, pertanda saya sedang mempersilakan anda untuk melihat beberapa hal yang biasanya anda sebut sebagai KEGAGALAN. Tapi apakah kita memiliki sudut pandang yang sama? Silakan.

Ketika saya menjadi seorang siswa Madrasah Aliyah, saya adalah anak yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang sangat kurang. Saya tidak paham apa itu tenses, apa itu vocabulary. Saya benar2 buta. Saya hanya menjalani pelajaran tersebut sesuai jadwal pelajaran yang ada, jika ada tugas, saya kerjakan seadanya hingga nilai saya selalu dibawah rata2. Tidak malu tidak kecewa. Biasa saja. Saya jalani pelajaran tersebut hingga saya naik kelas 3.

Suatu saat guru Bahasa Inggris saya meminta kami untuk menterjemahkan satu artikel kalau tidak salah mengenai era globalisasi dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Saya punya kamus kecil 300 milliar. Saya gunakan sesuka saya untuk mencari arti kata demi kata sehingga saya bisa menterjemahkan tugas tersebut. Motto saya adalah pantang tugas tak selesai, maka saya akan mengerjakan tugas itu walau saya tidak tau apakah itu benar atau tidak. Waktu selesai dan kami mengumpulkan hasil terjemahan itu di atas secarik kertas.

Guru saya langsung menilai satu per satu. Saya tetap duduk santai di belakang dengan teman2 yang lain. Saya termasuk anak yang punya kemampuan lebih di bidang matematika saat itu karena saya menyabet gelar satu2nya siswa yang lulus ujian matematika dari seluruh siswa kelas 3, jadi saya tidak terlalu ambil pusing untuk pelajaran yang tidak saya pahami, saya agak jumawa mengenai predikat satu2nya siswa pandai dalam matematika saat itu.

Satu per satu guru saya memanggil utk mengambil kertas yang sudah diberinya nilai. Saya menunggu kapan nama saya dipanggil, hampir 30 anak sudah menerima berarti tinggal 6 orang lagi yg belum, agak aneh ketika sudah anak ke 34 dipanggil dan saya belum juga. Tiba2 rasanya aneh dan gugup. Anak ke 35 sudah dipanggil dan itu bukan saya. Tiba2 guru saya berdiri dan memanggil nama saya. Dalam hati saya hanya ada pikiran bahwa saya berarti yang paling terbaik dalam tugas ini, itu saja. Entah mengapa saya terlalu pede dalam berpikir. Lalu guru saya memberikan kertas saya dan menyuruh saya membacanya keras2.

Saya membaca dg keras, seolah tidak terjadi apa2. 1 kalimat tidak ada masalah. 2 kalimat biasa saja. Muncul kalimat ke 3, ke 4, dan seterusnya ternyata sangat tidak masuk akal dan sangat semrawut. Oh my God! Deg saya baru sadar bahwa saya benar2 mengerjakannya tanpa berpikir apakah itu benar atau tidak, saya hanya mengerjakannya saja. Seisi kelas menertawakan saya. Guru saya pun tertawa. Mereka semua tertawa dg kalimat2 hancur yang saya terjemahkan. Itu pertama kalinya saya merasa dipermalukan. Dan itu oleh guru saya sendiri. Ia bertanya “apa kamu mengerti dg isi paragraf itu?” saya hanya diam dg wajah malu dan merah. Akhirnya saya duduk kembali ke bangku saya.

Saya terdiam hingga jam pulang. Di rumah saya benar2 sedih dan kecewa atas apa yang terjadi tapi saya tidak pernah bercerita pada siapapun akan kejadian itu pada orang tua ataupun saudara saya. Saya tetap seperti biasa di depan mereka. Malam hari sebelum tidur, karena saya memang gemar menulis, saya tulis semuanya dalam diary saya, dg huruf kapital saya tulis “SAYA BENCI BAHASA INGGRIS”.

Singkat cerita saya sedang menunggu hasil pengumuman kelulusan. Alhamdulillah saya lulus, namun kelulusan ini membuat saya bimbang, kerja atau kuliah? Orang tua meminta saya bekerja terkait biaya, tapi saya tidak rela melepas baju pendidikan saya sampai sini. Tanpa sengaja saya mendapat sebuah brosur, Sekolah Tinggi Agama Islam. Saya duduk di mushola dg berpkir keras sendirian sambil memegang brosur itu.

Tidak ada biaya? Tidak mungkin! Kalau saya mau, orang tua pasti mengusahakan, saya anak terakhir, dg itu saya yakin bisa minta keinginan saya dipenuhi apalagi STAIN merupakan satu2x sekolah tinggi negeri yang murah biayanya. Lalu saya lihat satu per satu jurusannya. Oh my God! Pertama, Saya bukan anak lulusan pesantren yang pandai membaca kitab dan punya hapalan dalil atau surah, saya tidak mungkin mengambil pendidikan agama islam. Kedua, saya bukan anak yang ingin menjadi pendakwah, pidato saja saya tidak berani, apalagi mengenai agama, bisa rusak dunia. Pilihan ketiga adalah pilihan umum, yaitu Pend. Bahasa Inggris. Oh my God!

Kalau saya tidak ambil saya bekerja, kalau saya ambil berarti saya sedang menuju tempat yang saya tidak sukai. Dengan pelan2 saya jalani. Sampai sebuah wawancara dg dosen sbelum saya dianggap boleh masuk ke prog itu, dosen tsb bertanya, kenapa pilih prog ini? Saya jawab “saya suka lagu westlife dan saya hapal setiap kata2nya, saya bisa tuliskan sekarang agar ibu yakin saya mengerti bahasa inggris” si ibu tertawa dan ia blg kamu pasti bagus pronounciationnya, dg pasti saya menjawab “ya dong”. Hanya dg wawancara itu saya lolos masuk prog. Pend. Bahasa Inggris.

Ketidaksukaan saya pada bahasa inggris membuat saya ingin mengalahkannya, tiap semester saya tidak pernah absen dan selalu duduk paling depan, hampir semua dosen hapal wajah saya, saya rajin mencatat dan bertanya, saking saya ingin lulus dg baik, saya memprovokasi kawan2 laki2 di kelas saya, agar saya trrpilih menjadi seorang kating, saya memang tergolong persuasif provocator, dg kedekatan personal, saya pun terpilih, lalu semakin dkt saya dg smua dosen, bahkan ada yang minta di misscalled utk pengingat jam masuk kelas.

Pelan2 saya bisa bahasa inggris dan tanpa sadar, saya mulai mencintai ilmu ini. Rasa kecewa dan malu, menjadi provokator bagi diri saya sendiri utk menaklukkan mata pelajaran ini. Bagi saya, ketika saya gagal, memang saya benci, tapi ketika orang lain sedang menertawakan kegagalan saya, saat itulah otak saya berpikir untuk membalasnya dg bersikap membuktikannya.

Saya suka ditertawai saat saya salah atau bersikap konyol bagi beberapa orang2, tertawanya mereka adalah dorongan saya untuk membuktikan, tertawanya mereka adalah pecutan saya untuk menjadi lebih kuat.

Terima kasih bagi anda yg pernah menertawai hal yang anggap sebagai sebuah kegagalan, karna bagi saya kegagalan adalah awal dari tantangan menjadi sukses. Saya bangga terhadap kalian.

Maka silakan tertawa pada kegagalan saya.

Adinda fiya
Smd 090214 00:06 AM

About fiyati

Saya adalah seorang anak perempuan yang lahir di Samarinda dan menempuh kehidupan sebagaimana biasanya, namun yang membuat saya berbeda ialah motto hidup saya yang takkan bisa dirubah oleh keadaan apapun jua. "Impossible is Nothing"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s