….

Standar

Matamu merah tapi kau bertahan
Kau tahan nafas sesakmu
Air mata tak kau biarkan turun
Kau cepat2 menghadap kaca dan menghapusnya
Tanganmu sibuk mengetik pekerjaan yang belum jua tuntas
Wajahmu kau alihkan ke layar laptop
Hatimu jelas berkecamuk
Tapi tak kau hiraukan
Ini hidup bukan sinetron
Lagu yang diputar pagi ini isinya tak kau pahami artinya
Sudahlah tak jua kau pedulikan
Kau ingin kembali ke titik nol
Seolah kau sedang mencari-cari cara untuk mereset dirimu

Ajari Aku Cinta

Standar

“Huff.. kenapa kau seribet ini ukh?”

Jika saja kau ga membuat macam2 syarat pastilah dari tahun kemarin semuanya sudah berbeda. Kurang apa lagi ukhti, semua kawanmu yang pergi ke tanah suci mendoakanmu. Ibunda pun turun memasukkan namamu dalam daftar doanya. Apalagi? Menunggu apa dirimu?

😊

Memang aku ribet 😄. Aku selalu berdoa. Allah pun selalu menjawabnya. Aku selalu meminta. Allah juga selalu memberinya. Tidak ada yang kutunggu selain memantaskan diri. Tidak ada yang kucari selain belajar mencintai.

Hingga kuputuskan mencari seseorang yang patut kucintai. Dengan bantuan seseorang, kutemukan referensi. Lalu kemarin aku menangis tersedu di kamarku. Aku membaca kisah hidup Rasulullah SAW, per lembar kucerna hati2. Aku ingin mencintai dia. Aku ingin benar2 mencintainya. Selama aku belajar di bangku Madrasah, aku selalu mendapatkan pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dan Akidah Akhlak. Baru aku sadari yang selama ini kupelajari memang tentang Rasulullah, tapi aku tak mencernanya. Aku hanya sebatas membaca dan menghapal deni menjawab diujian Madrasah. Semakin menangis hati ini. Melihat tanggungan Rasulullah terhadap ummatnya. Semakin sedih aku merasakannya. Haru yang tak terkira di hatiku. Aku memang bukan santri pondok pesantren, bahkan aku bukan perempuan yang punya ilmu agama yang baik. Namun aku ingin belajar mencintai. Mencintai seseorang yang belum aku temui wujudnya & mendengar suaranya. Cukup aku membaca kisahnya & melihat kebaikan yang Ia tularkan ke seluruh ummat manusia. Cintanya menjadikan semuanya bercahaya. Cintanya seperti cinta orang tua kepada anaknya. Cintanya seperti yang tua mencintai yang mudà. Cintanya bagai cinta sesama manusia untuk saling berbagi. Begitu luas cinta Rasulullah SAW. Maka dari itu biarkan aku belajar mencintai terlebih dahulu.

Jangan kasihani aku karena aku belum juga berada di singgasana pengantin. Kasihani aku jika ternyata aku tak peduli dengan agamaku. Lalai meninggalkan perintah Allah SWT dan malah mengerjakan yang telah dilarang. Melupakan manusia yang paling sempurna, Rasulullah SAW.

Jangan tinggalkan aku, berikan aku ilmu. Kita harus saling berbagi dan belajar. InsyaAllah Allah SWT akan membalas semua yang kau berikan kepadaku. Aamiin.

BRAVE

Standar

(Pic : google)

Saya suka sekali dengan film animasi yang satu ini. Itulah mengapa Brave menjadi nama pelengkap untuk nama akun di IG. Hehehe.

Film ini mengisahkan tentang seorang putri kerajaan yang bernama Merida yang akan dinikahkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pemuda pemenang lomba. Lomba ini diikuti oleh para putra kerajaan lainnya.

Merida yang memiliki jiwa bebas dan tak ingin berakhir dengan pernikahan yang dipaksakan oleh ibunya, maka ia pun tergiur menggunakan mantra agar sang ibu membatalkan rencana tersebut, namun mantra tersebut tidaklah tepat karena dengan mantra itu sang ibu malah menjadi seekor beruang.

Kisah ini bercampur haru karena Merida sadar bahwa apa yang ia lakukan adalah hal yang salah, maka apapun ia lakukan harus segera ia perbaiki. Yaitu mengembalikan wujud ibunya menjadi manusia.

Akhir cerita ini pun cukup menguras emosi. Apakah Merida tetap menjalani pernikahan yang telah ditentukan dan sang ibu kembali menjadi manusia? Pengorbanan harus dilakukan. Takdir seseorang akan terjalin pula dengan takdir-takdir yang lainnya. Hanya saja terkadang seseorang itu tidak tahu bagaimana menujunya dan perlu bantuan untuk menuju kesana.

Brave. Yes I am. Fiya Brave.

UNWRITTEN

Standar

(Pic: google)

I am unwritten, can’t read my mind, I’m undefined
I’m just beginning, the pen’s in my hand, ending unplanned

Staring at the blank page before you
Open up the dirty window
Let the sun illuminate the words that you could not find

Reaching for something in the distance
So close you can almost taste it
Release your inhibitions
Feel the rain on your skin
No one else can feel it for you
Only you can let it in
No one else, no one else
Can speak the words on your lips
Drench yourself in words unspoken
Live your life with arms wide open
Today is where your book begins
The rest is still unwritten

I break tradition, sometimes my tries, are outside the lines
We’ve been conditioned to not make mistakes, but I can’t live that way

Staring at the blank page before you
Open up the dirty window
Let the sun illuminate the words that you could not find

Reaching for something in the distance
So close you can almost taste it
Release your inhibitions
Feel the rain on your skin
No one else can feel it for you
Only you can let it in
No one else, no one else
Can speak the words on your lips
Drench yourself in words unspoken
Live your life with arms wide open
Today is where your book begins

Feel the rain on your skin
No one else can feel it for you
Only you can let it in
No one else, no one else
Can speak the words on your lips
Drench yourself in words unspoken
Live your life with arms wide open
Today is where your book begins
The rest is still unwritten

Staring at the blank page before you
Open up the dirty window
Let the sun illuminate the words that you could not find

Reaching for something in the distance
So close you can almost taste it
Release your inhibitions
Feel the rain on your skin
No one else can feel it for you
Only you can let it in
No one else, no one else
Can speak the words on your lips
Drench yourself in words unspoken
Live your life with arms wide open
Today is where your book begins

Feel the rain on your skin
No one else can feel it for you
Only you can let it in
No one else, no one else
Can speak the words on your lips
Drench yourself in words unspoken
Live your life with arms wide open
Today is where your book begins
The rest is still unwritten

*natashabeddingfield’s

UP

Standar

(Pic : google)

Lagi nonton film animasi UP.

Ya kalo lagi galau cerita ini bakal bikin hati merasa bahwa cinta sejati itu tak mengenai batas waktu. Walau sempet mikir juga “does it exist?”

Bayangin aja pasangan hidupmu pergi selamanya? Seseorang yang selama ini ada di sisimu, di pagimu, di siangmu, di malammu harus menjauh. Tanpa persiapan ketegaran kau harus tegar.

Seperti Sang Kakek yang ditinggalkan oleh istrinya, ia pun harus tetap menjalani hari walaupun semua takkan sama lagi.

Ketidaksiapan menerima kehilangan akan berakhir dengan rintihan perih di hati walau tak terucap. Ingin menangis? Menangis saja.

Hanya segala hal yang kita lewati bersama tidaklah pernah mati.

Ketika semua tidak berjalan seperti yang kita inginkan, lakukanlah perjalanan terbaik untuk mewujudkan cita-cita. Jadikanlah segalanya sebagai motivasi untuk terus berjalan.

Suatu saat kita akan memahami kenapa ada awal jika ada akhir. Cukup ucapkan dalam doa untuk saling menjaga. Tersenyumlah, kita akan bahagia. Semua akan baik-baik saja.

EQUALS

Standar

(Pic: google)

Equals.
The movie i watched last night. Actually for the first time I watched it, i felt so boring to see the slow tempo of the life.

The casts do everything based on th schedule. Wake up, eat, take a bath, work, eat, sit, sleep. It’s around and around. The movie ends when the casts decide to break the rule and run away from that flat life.

Today, I am home from my job, laying on my bed and having an online chat on with someone. I finally understand that the movie is the reflection of this life. We’re gonna be like the casts. Living in a flat life. We’re on schedule. Doing those activities again and again.

On my mind, I know I am too tired of the drama. Let’s break it and run away from this unintended life. Build our own world. Make it color. Lemme be the reality, even I have to be hurt. Lemme fall down, even I have to feel sick. It’s fine, so I can learn from all the sickness and being hurt, because this life is my choice. My rule.

ANTARA SAMARINDA DAN ACEH

Standar

Ada apa antara Samarinda dan Aceh?

Hehe.. ini bukan cerita sinetron tentang putri yang terpisah loh ya, tapi ini cerita tentang saya anak Samarinda yang notabene tak punya garis keturunan keluarga dari Aceh tapi cinta kuliner Aceh.

Kuliner Aceh yang paling saya suka saat ini adalah Mie Aceh. Walau pun belum pernah menginjakkan kaki di pulau Aceh tapi kecintaan akan mie Aceh sudah merasuk ke jiwa. Hahaha.. mulai lebay! Pertanyaannya siapa yang bisa nolak makanan seenak itu? 😆. Tapi pasti penasaran why do I love this food? Ada kisahnya. 😎

(Ini penampakan mie goreng Aceh daging yang saya pesan di warung makan Aceh di Samarinda)
Saya punya kawan dekat di Aceh, panggil aja namanya Albem 😄, kita sering share tentang daerah kita masing-masing. Saya bercerita tentang Samarinda dan dia pun bercerita tentang Aceh. Nah, entah topik apa di hari itu tiba2 kita bahas makanan dan jeng-jeng, saat Kawan saya kirimkan fotonya. Langsung ngecesss ini liur. 😄😄. Liat di foto aja udah tau itu enak, apalagi makannya.

Mie Aceh itu khas penuh rempah-rempah dan rada pedes. Saya suka makanan dengan rempah-rempah karena menurut saya makanan yang diberi bumbu rempah itu akan luar biasa nikmatnya, apalagi bumbunya meresap ke pori-pori. 😄😄

Penemuan yang tak disengaja. Yap, mau makan mie Aceh di Samarinda tapi entah dimana? Kawan saya suka sekali kirim dengan gambar hidangan mie Aceh yang ia pesan di tempat makan di sana. Siapa yang tak tergoda? Nah, Kebetulan saat itu lagi menuju ke kantor pajak melewati Jalan Suryanata, pas lagi nengok di seberang jalan ehhh ada plang putih bertuliskan “Mie Aceh”. Woooow. Apakah ini yang dinamakan “Takdir”! Hehehe mulai lebay lagi. Semenjak itu hati sudah mantap harus mencicipi makanan tersebut. 😂😃😅

Satu hari pulang dari kantor pajak saya melalui kawasan jalan Suryanata dimana warung makan mie Aceh berada, cuaca mendung dan yang dipikiran saya hanyalah makan mie Aceh selagi masih panas. Ba’da Magrib, saya langsung kebut ke warung makan tersebut dan disambut hangat dengan mas mas koki yang berwajah khas dan logat Aceh. Hihihi. Saat dia tanya mau pesan apa, saya layaknya anak kecil dengan muka pengen seraya berkata” Saya mau mie Aceh”! 😁. Dia tanya balik mau goreng, basah atau kuah? Biasa, daging, atau udang? Haiaaaa.. banyak kali mas koki, eh koki ini bertanya karena saya tak tau yang mana duluan yang mau dicoba. Setelah saya pikir2, akhirnya jatuh pilihan ke Mie Goreng Aceh Daging. Saya minta dua bungkus! Hehe. Tak bisa makan di tempat karena hari sudah malam, lampu padam dan hujan.

Sampai di rumah, hendak kabarkan kawan di Aceh tapi hp mati. Lampu padam. Tak bisa charge. Yasudah.. karena keinginan sudah tak bisa dibendung, Bismillah.. saya makan dengan lahap dan luar biasaaa enaakk. Perpaduan mie, rempah dan dagingnya mantap sekali. Terasa seperti rendang, mungkin karena saya pesan mie goreng Aceh daging. Tapi buat saya ini luar biasa enaknya. Pengen sekali saya foto mie Aceh pertama saya, tapi apa daya hp saya mati. Saya pun makan menggunakan lampu emergency kecil seadanya. Entah lah kenapa saya lebay sekali dengan mie Aceh ini. Serasa jatuh cinta pada pandangan pertama dan ingin selamanya bersama. Hahaha.

Lampu menyala, saya langsung bercerita ke kawan saya di Aceh. Hahaha ia pun tertawa melihat tingkah kocak saya yang lebay ini menceritakan betapa cintanya saya dengan menu tersebut di chat.😍

Sejak hari itu, saya jadi ketagihan makan mie Aceh. Tiap ada kesempatan saya pergi ke sana walaupun jarak dari rumah lumayan jauh demi membeli mie Aceh dengan harga Rp.15.000 seporsi (khusus daging dan udang) kalau yang biasa harganya Rp.12.000. Tapi saya tak mau yang biasa, untuk hal yang saya cinta, harus yang luar biasa! Hahaha lebay teruuusss. Oh ya, warung makan mie Aceh yang saya datangi ini terdapat tulisan Himpunan Masyarakat Aceh Samarinda. Cucok ya. Saya baru tau loh kalau ada himpunannya. Maaf yah, kurang info. Hehehe. 😅

Satu hal yang ada di pikiran saya, jika mie Aceh di Samarinda seenak ini, bagaimana dengan mie Aceh yang beneran dijual di Aceh yah? Pasti ueeenaaaaakkkk banget ya? Haiaaa.. ingin sekali menyantapnya di daerah asli mie ini berasal. InsyaAllah. Ada keinginan ada jalan.

Btw I wanna say Thank you for Mr Albem, my closest friend who lives in Aceh. You’ve poisoned me with this delicious local food. 😆😆. Finally I’ve got a reason why I must fly to Aceh, besides I know what Aceh is very beautiful. Nabung dulu yah 🙆.